Jumat, 09 April 2010

Cina Dibenci, tapi Berarti


Judul Buku : Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Sejarah Etnis Cina di Indonesia

Penulis : Onghokham

Penerbit : Komunitas Bambu, Jakarta

Tebal halaman: 204 halaman

Berbicara sejarah Indonesia, Cina adalah warna tersendiri yang ada. Banyak sekali kajian yang dapat kita peroleh ikhwal eksistensi keturunan Cina di Indonesia. Pada masanya Cina pernah menempati posisi yang strategis dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Pemerintah colonial Belanda pernah mengklasifikan kelas-kelas masyarakan pribumi kala itu, dan Cina, bersama Arab dan negara Timur Jauh lainnya menempati urutan kedua di bawah Belanda dan Eropa.

Tidak dapat dipungkiri bagaimana semangat dagang Cina yang ada selama ini. Cina menempati sector-sektor yang sangat strategis dalam arus perekonomian Indonesia, baik itu pada masa colonial ataupun masa sekarang. Itulah yang menyebabkan Cina terus bertahan di tengah arus kolonialisasi yang semakin hari semakin menggila kala itu. Cina seakan-akan tidak ambil pusing dengan keadaan nusantara kala itu. Yang terpenting adalah bagaimana mereka masih terus bisa bergerak dalam bidang yang selama ini menjadi ranah mereka. Perdagangan.

Namun demikian, tidak sedikit pula keturunan Cina yang juga bergerak dalam dinamika pergerakan nasional. Seperti Lie Eng Hok, Karim Oe, Kwee hing tjiat, dan lain sebagaimnya. Mereka secara sadar telah bersama-sama memerjuangkan kemerdekaan bangsa dari cengkraman penjajah.

Di sisi lain, kita akan disuguhkan dengan kenyataan yang cukup memilukan ikhwal pembantaian-pembantaian yang ditujukan kepada keturunan-keturuan Cina. Akhir abad 19 kita mungkin masih ingat dengan pembantaian besar-besaran Cina di Batavia oleh VOC. Ribuan nyawa tidak bersalah melayang begitu saja. Klimaksnya adalah ketika meletusnya pemberontakan Tigapuluh September. Versi resmi pemerintah sampai sekarang masih yakin mengatakan bahwa dalang di balik peristiwa ini adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Dampaknya adalah apapun yang berafiliasi dengan komunis maka akan dihanguskan dan dibersihkan. Begitu pula dengan etnis-etnis Cina.

Selain peristiwa kisaran tahun 65 itu, pembantaian besar-besaran terhadap etnis Cina adalah ketika terjadinya reformasi tahun 1998. Penjarahan terhadap took-toko Cina terjadi di mana-mana. Selain penjarahan, adalah pemerkosaan menjadi headline beberapa suratkabar local maupun nasional. Sungguh sangat ironis. Begitulah dinamika Cina di Nusantara. Sangat berkelok dan penuh dengan liku. Terkadang mereka berada diatas roda perputaran, terkadang berada di bawah.

Dalam buku “Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Sejarah Etnis Cina di Indonesia” karangan Onghokham ini akan memaparkan dinamika-dinamina tersebut. Buku ini sangat luga membahas tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh orang-orang keturunan (Cina). Mulai dari sejarah awal eksistensi Cina di Nusantara sampai tuntas membahas agama-agama yang dianut oleh orang-porang Cina di Indonesia. Namun, yang menjadi sorotan utama buku ini adalah munculnya sinisme terhadap eksistensi Cina di Nusantara dari pelbagai perspektif.

Dalam buku ini, Ong (sapaan akrab Onghokham) menjelaskan bahwa akar gerakan anti Cina berakar pada masa colonial Belanda. Belanda membagi membagi masyarakat ke dalam tiga golongan rasial; Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Cina berada dalam golongan kedua. Sampai kisaran tahun 1910 setiap golongan ditempatkan dalam tempat-tempat yang khusus (ex. Kampung Cina, kampus Arab, kampong India, dst). Pembatasan ini bagi golongan timur asing seperti Cina dipertegas dengan keharusan memiliki pas jalan bagi perjalan dari kampong Cina satu ke Cina yang lain. System inipun tidak berbeda jauh dengan kebijakan apartheid di Afrika Selatan.

Dalam sudut pandang pribumi, muncul mitos yang mengatakan bahwa golongan Cina selalu mendapat perlakuan yang istimewa dari pemerintah Belanda. Namun, beberapa peneliti mengatakan bahwa pemerintah Belanda memiliki sentiment anti Cina yang cukup besar, dan sentiment ini memuncak pada kisaran 1900. Hal ini dikarenakan Cina menempati posisi pedangan perantara Eropa dengan Pribumi dan mendominasi setiap perdagangan di tiap-tiap kota di Jawa.

Politik colonial anti Cina ini menyebabkan timbulnya gerakan emansipasi Cina-jawa. Mereka mununtut persamaan hak dengan orang-orang Eropa. Gerakan ini adalah yang pertama dari masyarakat Hindia Belanda yang bergerak menghadapinya. Gerakan ini berhasil menghapuskan semua pembatasan terhadap mobilitas fisik etnis Cina.

Akar-akar Sentimen terhadap Cina

Ketika kita bertanya siapakah actor intelektual munculnya benih-benih sintemen terhadap keturunan Cina, maka jawaban yang akan muncul adalah pemerintah colonial Belanda. Meskipun tidak secara tersurat pemunculan itu, namun ketika kita menilik lebih jauh beberapa kebijakan Belanda, maka ada semacam konspirasi untuk menyingkirkan keberadaan Cina di Nusantara.

Pada awalnya, Cina adalah mitra dagang bagi orang Belanda, tepatnya ketika masa VOC. Namun, bukan berarti hubungan mereka berjalan dengan mulus. Banyak krikil-krikil tajam yang mewarnai hubungan kedua negara (dagang) ini. Puncaknya adalah pembunuhan besar-besaran penduduk Cina oleh bangsa masyarakat Beland di Batavia tahun 1740.

Paska kerusuhan 1740, Belanda membentuk kelas-kelas dalam masyarakat Indonesia (Hindia Timur). Belanda dan Eropa menempati kelas pertama. Bangsa timur asing, termasuk Cina menempati kelas kedua, dan tempat ketiga ada penduduk pribumi, yaitu penduduk asli Indonesia. Ada beberapa aspek yang bisa kita lihat dengan fenomen pembagian kelas tersebut. Pertama, dengan diperlakukannya kebijakan tersebut, berlaku pula system pelokalisasian terhadap satu etnik. Semisal etnik Cina dikonsentrasikan di pemukiman Cina, etnik Arab di pemukiman Aran, Etnik India di pemukiman India, dan seterusnya. Dengan diperlakukannta system itu, maka kelompok-kelompok yang tersekat itu akan mempunyai ruang gerak yang sangat sempit dan cenderung bersifat stagnant. Sentiment Belanda terhadap Cina nampak dalam permasalahan ini, dengan membatasi seluruh gerak-gerik orang-orang Cina.

Kedua. Dengan menaruh orang-orang pendatang dari Cina satu tingkat diatas penduduk asli pribumi, menjadikan ada kecemburuan social orang-orang pribumi terhadap orang-orang Cina. Sampai kemudian muncul mitos yang mengatakan bahwa orang-orang Cina mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari Belanda. Padahal, seperti yang telah disinggung tadi, bahwa Belanda memeliki sentiment terhadap Cina begitu tinggi.

Sentimen anti Cina yang kuat hidup dalam pemerintahan colonial Belanda terutama terlihat dalam kebijakan politik etis (1900) yang ditujukan untuk menaikan perhatian masyarakat pribumi. Pejabat Belanda merasa bahwa mereka harus melindungi masyarakat pribumi dari kelicikan orang-orang Cina. Adanya peraturan ini dan diperlakukan diskriminasi lainnya bukan berarti bahwa orang Cina tidak berkembang di bawah system politik etis colonial Belanda.

Kerusuhan pertama anti Cina adalah huru-hara Kudus tahun 1918, dimana Kudus mempunyai golongan-golongan kelas menengah dari kalangan pribumi Jawa dan Muslim Jawa. Pada awalnya, kerusuhan ini disinyalir akibat prosesi klenteng oleh penduduk Cina yang menyakiti masyarakat muslim setempat. Namun, setelah ditelisk lebih lanjut, ternyata kerusuhan ini disebabkan oleh latar belakang persaingan dagang kelas menengah. Persaingan ini muncul akibat kebijakan Belanda yang menghapus system pembatasan mobilitas kepada orang-orang Cina, dan membiarkan mereka membaur dengan penduduk pribumi dalam perdagangan.

Saya kira buku sangat cocok untuk pembaca pemula ikhwal eksistensi Cina di nusantara. Memang sudah sangat banyak sekali buku-buku sejenis yang membahas tentang bagaimana Cina menjalani kelangsungan hidupnya di negara yang seratus persen berbeda dengan kultur pribadinya. Buku ini menjelaskan secara runut bagaimana pola interaksi Cina, baik itu dengan pemerintah kala itu (Belanda) ataupun dengan penduduk pribumi local. Dengan media perdagangan, Cina mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu kekuatan dan warna baru sejarah Indonesia. Akibatnya, kita tidak begitu saja men-judge bahwa Cina adalah jelek.

Namun demikian, saya kira masih ada beberapa kekurangan yang harus menjadi bahan koreksi, baik itu untuk penerbit maupun penulis itu sendiri. Mungin salah satunya adalahm, dikarenakan Ong adalah seorang keturunan Cina, maka ditakutkan tulisannya ini agak berbau ke-Cina-cinaan. Sehingga terkesan sangat subjektiv. Akan tetapi, sejarawan sekaliber Ong tidak diragukan lagi eksistensinya dan karya-karyanya. Ong terkenal dengan beberapa tulisannya tentang sejarah Indonesia abab 19. Selain itu, Ong sangat gemar menulis sejarah-sejarah yang sangat ringan. Pernah dia menulis tentang Mie, pakaian, mitos dan banyak lagi yang lainnya. Tabik!

Kamis, 08 April 2010

PENDIDIKAN PESANTREN, PENDIDIKAN ALTERNATIF


Ketika pertama kali mendengar kata pondok pesantren, pasti yang pertama muncul di benak kita adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdapat peraturan yang sangat ketat akan penanaman ajaran-ajaran keagamaan, dalam hal ini adalah Islam sebagai asas pesantren itu sendiri. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah, karena pada dasarnya, pesantren memang di desain untuk menciptakan kader-kader yang mumpuni dalam urusan keagamaan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pesantren, terutama pesantren modern yang saat ini banyak berkembang, telah memberi solusi baru terhadap dekadensi pendidikan Indonesia di era globalisasi ini yang semakin hari semakin terperposotkan.

Mengutip dari salah satu ayat al-quran yang berbunyi “ maka Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mencari ilmu dengan beberapa kali derajat”. Kutipan itu sudah cukup kuat menganjurkan kita terhadap pentingnya menuntut ilmu, pentingnya pendidikan terhadap kemajuan suatu bangsa. Pendidikan adalah ujung tombak peradaban bangsa. Kita mampu membayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa ketika telah terjadi degradasi moral dan spiritual ketika di karenakan kebutuhan ilmu pengetahuan yang tidak terpenuhi.

Karna urgen-nya ilmu pengetahuan, sampai-sampai Rasululloh dalam sebuah hadisnya menganjurkan, bahkan mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Dan dalah salah satu hadisnya pula, beliau menganjurkan umatnya untuk mengejar ilmu itu sampai ke negeri Cina. Cina dalah hal ini adalah representasi betapa pentingnya sebuah ilmu pengetahuan, meskipun itu berada di tempat yang sangat jauh. Masih mengutip dari salah satu pepatah arab, “tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat”. Kutipan ini menjelaskan rentan menuntut ilmu tidak terdefiniskan, kapan kita haru memulai menuntut ilmu dan kapan kita harus mengakhirinya. Menuntut ilmu adalah tuntutan kehidupan yang harus kita emban ketika kita terlahir ke dunia, dan akan berakhir ketika kita benar-benar tdiak lagi bernafas.

Namun sangat ironis, ketika menyandingkan pernyataan di atas dengan keadaan pendidikan ni negeri tercinta ini. Indonesia ternyata belum mampu menjadi advokator yang baik untuk pendidikannya. Terlalu banyak cacat yang harus segera dibenahi dan di renovasi. Karena saking banyaknya cacat yang mendera, sampai-sampai pelbagai macam model pendidikan dan kebijakan belum mampu mengentaskan pendidikan kita ke arah yang lebih baik dan maju. Pendidikan Indonesia yagn telah dibangun semenjak era pergerakan itu semkain hari semakin menyedihkan. Permasalahan muncul mulai biaya pendidikan yang melambung tinggi, korat-karitnya aturan UN alias ujian nasional, gonta-gantinya model kurikulum semakin menenggelamkan ke jurang kenistaan. Saya dan beberapa kawan pernah membayangkan, seandainya tokoh-tokoh pendidikan kita dulu bisa hidup kembali, seperti apa kesedihan dan penyesalan mereka. Tentunya mereka akan menangis sejadi-jadinya. Ahmad Dahlan akan mengutuki kadernya satu persatu, Ki Hajar Dewantara akan misuh-misuh terhadap para pamong-nya, dan Raden Ajeng Kartini tentunya akan cuap-cuap tidak jelas karena melihat perempuan tidak mempunyai andil apapun terhadap perkembangan pendidikan. Memang itu Cuma bayangan kami, namun tidak mungkin bayangan itu muncul kalau tidak disebabkan oleh buruknya mutu pendidikan Indonesia.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan besar kita saat ini adalah, sismtem pendidikan yang seperti apa yang benar-benar cocok dengan karakter dan watak orang indonesia. Kita membutuhkan sistem baru yang mampu menampung segala keluh dan kesah masyarakat indonesai, tentunta pendidikan itu yang pro terhadapa rakyat, yang mampu dijangkau oleh rakyat, terutama dalam ha ekonomi dan tentunya tidak neko-neko. Berbicara tentang neko-neko, semakin hari kita semakin senewen dengan pola kebijakan pendidikan kita. Ada yang menginginkan agar bertarap internasional, padahal secara sarana dan prasana belum cukup mampu untuk menuju kesana. Ada yang beraangan menjadi sekolah percontohan se-Indonesia, padahal masih banyak elemen sekolahnya yang belum cocok untuk menjadi suri dan contoh. Pendidikan kita serba sulit. Kalau merujuk ke kata pepatah, “Hidup Enggan, Mati Tidak Mau”, kembang kempis seperti halnya balon udara.

Pendidikan Pesantren, Pendidikan Alternatif

Menurut Bryan bahwa pendidikan pesantren adalah sebuah ladang dan lahan subur yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk menjadikan manusia itu mempunyai kepribadian yang baik, sekaligus mengembalikan islam ke esensi awal, yaitu islam sebagai agama adalah berfungsi sebagai perekat sosial yang terkesan terlalu antagonistik atau bahkan sebagai candu sosial yang akan menekan konfik antar masyarakat. Agama, secara umum, dapat dikatakan berfungsi mempertahankan kohesi sosial secara fugnsional agama konstitusi kontrol sosial paling utama dalam interaksi sosial itu sendiri (Bryan, 2006). Jadi sangat jelas disini, bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang (juga) dalam visi dan misinya berupaya menciptakan kader-kader yang unggulan, yang peka terhadap realita sosial yang selalu berdinamikan hari demi hari.

Sejalan dengan visi dan misinya juga, pesantren berusaha dan selalu menjadi corong pendidikan indonesia dalam kontek kekinian. Tidak mungkin dipungkiri, pondok pesantren mempunyai sumbangsih yang tidak sedikit kepada pendidikan ini. Tidak usah muluk-muluk kita menghadirkan sebuah contoh, penulis adalah seorang yang pernah beberapa tahun mengecap bangku pondok pesantren. Memang kesannya cukup subjektif, tapi paling tidak itu adalah representasi dari pentingnya pesantren bagi kelangsungan pendidikan Indonesia.

Pendidikan pesantren sebagai alternatif berarti pendidikan dengan corak dan pola agamis adalah sebuah opsi terbaru, dimana pendidikan Indonesia berada dalam titik yang paling memprihatinkan. Sebagai pendidikan alternatif, tentunya pesantren tidak setengah-setengah dalam menjalankan roda pendidikannya. Dalam kontek kekinian, kurikulum pesantren semakin hari semakin berkembang, mengikuti arus dinamikian masyarakat. Sebagai bukti adalah mulai hilangnya stigma yang mengatakan pelajar pondok adalah pelajar yag kuper alias kurang pergaulan dan cenderung gagap teknologi. Pondok pesantren, terutama pondok modern, telah mempunyai syarat yang cukup untuk sekadar dikatakan sebagai representasi pendidikan modern, seperti halnya sekolah-sekolah pada umumnya.

Menjadi pendidikan alternatif tentunta mempunyai konsekuensi tersendiri yang harus mampu ditanggung oleh pesantren itu. Ada beberapa hal yang kudu digarap, meskipun harus menggadaikan idealisme pesantren, dalam hal ini adalah idiologi agama, yaitu reorientasi pesantren. Hal ini sesuai dengan misi Islam tranformatif yang mencoba menjadikan islam lebih akomodatif dan fleksibel sehingga masyarakat mampu menerimanya dengan tangan yang benar-benar terbuka. Akan tetapi, ada satu hal yang harus diperhatikan, terutama dengan pandangan pesantren-pesantren konservatif yang cenderung menjaga tradisi pesantren-pesantren tradisional.

Rabu, 10 Maret 2010

GUS JI



Gus Ji. begitulah para tetangga biasa memanggilnya. nama aslinya Raji. rumahnya tepat di jalan sebrang rumahku. aku tidak tau apa mata pencaharian asli gus ji. dia bekerja sesuai kebutuhan orang yang membtuhkan tenaganya. kasarannya "srabutan".


oh iya, "Gus" disini bukan karena dia anak seorang kyai atau ulama' tersohor di kampungku, seperti halnya yang seirng dipakai oleh salah satu ormas yang ada di indonesia. Gus memang dipakai kebanyakan penduduk di kampungku untuk memanggil orang yang lebih tua.

banyak kelebihan dipunyai oleh orang yang mempunyai kekurangan dalam hal pandangan. gus ji dari kecil memang terlahir dalam keadaan buta. mungkin karena kondisi keluarga yang sangat sederhana, maka kedua orang tuanya tidak sempat melakukan oprasi untuk kedua mata gus ji, dan ini kelihatannya lumrah terjadi di antero kampungku. meskipun demikian, banyak sekali kelebhan yang seadainya di nalar lewar logika yang sadar akan sulit terjadi

1. kemampuan membuat sangkar burung

ini adalah salah satu kelebihan diantara beberapa kelebihan yang dipunyai oleh gus ji. dia sering membuat sangkar burung sendiri. bukan sangkar dari bahan besi yang tinggal merangkai saja, tapi sangkar burung yang terbuat dari anyaman bambu, bahkan model teralis bambu yang kalau dibikin oleh orang yang normal pun akan sangat sulit. bagaimana bambu yang dipotong memanjang harus dimasukan ke dalam lobang-lobang yang telah di buat. satu demi satu,d an gus ji mampu melakukannya seolah-oleh dia dapat melihat lobang-lobang yang hanya sebesar lubang bisul kalau meletus.

2. mengambil pakan ternak dan mengambil kayu bakar
ini adalah kemampuan lain yang dimiliki oleh gus ji. seperti halnya kebanyakan penduduk di kampungku, gus ji adalah pengembala yang sangat giat. dia selalu mengambilkan pakan untuk ternak-ternaknya di hutan sebelah selatan desa. selain mengambil pakan ternak, dia juga sesekali mengambil kayu bakar di tengah belantara yang sangat luas. pernah suatu ketika, pas lagi mengambik kayu bakar, dia mendengar ada suara langkah sepatu laras panjang datang mendekatinya. tanpa pikir panjang dia langsung memanjat pohon yang terdekat dengannya. mandor kadang seenaknya saja menciduk orang yang sedang mengambik kayu di hutan, yang ditandai oleh perhutani ini. ketika mandor semakin dekat dengannya, dia sudah berada di atas pohon terdekatnya tadi. dan amanlah gus ji dari mandor yang belagu itu.

3.mengendarai sepeda
hal aneh lain yang mampu dia lakukan adalah mengendarai sepeda onthel. adalah hal yang sagat mustahil seorang buta seperti dia mampu melakukan hal semacam itu. hanya insting dan naluri yang kuat saja yang mampu membuat dia menjadi orang yang begitu sepesial di hati masyarakat kami.

itu adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh gus ji yang tentunta membuat orang-orang di sekitarnya terheran. ada satu kemampuan lain yang dipercaya orang-orang sebagai kelebihan utama gus ji, Raji. keanehan ini berawal ketika dia menemukan sebuah tutup panci bukit tumpang, sebelah timur desa kami. tutup itu kemudian dipercaya sebagai jimat sumber kekuatan gus ji. dengan tutup panci itu, gus ji katanya mampu membuka pintu yang dikunci hanya dengan ditiup. isu ini sudah menjadi pembiaraan sehari-hari bahwa gus ji bisa meniup pintu yang terkunci sampai terbuka.

"wah omahku ke kunci leh......."

"wes, kongkon nyebul gus ji ae, ngono ae repot!".

cletukan itu lumrah muncl di tengag masyarakar kampung ku sampai sekarang.

Gus Ji memang ajaib....

Byron Moreno: Pengadil Bermata Malas


 Italia mengalami kekalahan yang mengejutkan pada babak 16 besar Piala Dunia 2002 dari tuan rumah, Korea Selatan melalui babak perpanjangan waktu. Kekalahan Italia semakin perih karena bintang mereka, Francesco Totti juga mendapatkan hadiah kartu merah dari sang pengadil pertandingan. Selain kepada Ahn Jung Hwan, masyarakat Italia juga menimpakan kekesalan kepada sang pengadil pertandingan, Byron Moreno asal Ekuador, karena dianggap tidak becus dalam memimpin pertandingan. Naasnya, Moreno dianggap bersepakat untuk meloloskan tuan rumah ke babak selanjutnya. Cacian sampai ancaman pembunuhan pun gencar dialamatkan kepada wasit bermata malas itu.

 

Dialah yang terbaik di Ekuador

Mempunyai perawakan cukup sangar, dengan tinggi yang tidak begitu seberapa. Dialah Byron Moreno, wasit berkebangsaan Ekuador ini dipilih untuk mewakili negaranya dalam ajang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang. Modal bagus dia bawa dalam perhelatan akbar empat tahunan ini, yaitu sebagai wasit terbaik di negaranya.

Sebelum Piala Dunia 2002 tidak banyak yang mengenal sosok Byron Moreno. Publik lebih mengenal Piarluigi Collina dan Graham Poll sebagai wasit paling disegani penikmat bola. Collina adalah wasit jempolan asal Italia. Sudah beberapa pertandingan besar, baik nasional dan internasional, pernah dia pimpin. Setali tiga uang dengan Collina, Poll yang asli Inggris juga mempunyai segudang pengalaman dalam memimpin pertandingan. Mungkin kurang populernya eksistensi Morena (sebagai wasit) menyebabkan sangat terbatasnya sumber yang secara panjang lebar membahas tentang karirnya dalam dunia perwasitan.

Besar dengan nama lengkap Byron Aldemar Moreno Ruales. Morena dilahirkan tepat tanggal 23 November 1969 di sebuah kota di Ekuador bernama Quito. Seperti yang telah disebut di awal, bahwa dia adalah wasit tebaik Ekuador kala itu. Namun demikian wasit ini tidak pernah berhenti untuk membuat sensasi dan kontroversi. Dia pernah memberi perpanjangan waktu paling lama dalam sejarah sepakbol, 13 menit, dan yang kontroversi paling terkenal adalah ketika dia dianggap membuat konspirasi untuk memulangkan Italia lebih dulu diajang Piala Dunia 2002.

Sebuah Konspirasi Mengganjal Gli Azzuri

Status sebagai tim unggulan disematkan kepada tim nasional Italia dalam pehelatan even akbar empattahunan ini. Italia adalah finalis Piala Eropa dua tahun yang lalu, meskipun akhirnya dikalahkan oleh Prancis pad babak final di Rotterdarm melalui perpanjangan waktu. Dalam kancah Piala Dunia tidak ada yang meragukan tim nasional Italia. Bersama Jerman, Italia adalah pemegang trofi terbanyak untuk benua Eropa, masing-masing tiga kali. Tidak Cuma itu, Italia mempunyai Liga terbaik di dunia, Serie A. Dan ketika melihat susunan pemainnya, hampir tidak ada yang meragukan bahwa Italia memang pantas untuk mendapat kehormatan sebagai salah satu tim yang akan menggondol tropi bola dunia tahun ini.

Meskipun demikian ketika memasuki putaran final, Italia belum mampu menunjukkan bahwa dia adalah tim calon juara. Performanya masih begitu mengecewakan. Berada di grup G bersama Kroasia, Meksiko dan Ekuador, Italia diprediksi akan mudah melewatinya. Tetapi kenyataanya tidak seperti itu. Pertandingan pertama dapat mereka lewati dengan sempurna. Dua gol Cristian Vieri mampu menyudahi perlawanan Ekuador, masing-masing menit 7’ dan 27’. Performa apik Italia tidak berlanjut pada pertandingan selanjutnya. Kroasia yang pada pertandingan pertamanya dikalahkan oleh Meksiko berhasil menjungkalkannya dengan skor 2-1. Gol penentu kemenangan Kroasia dicetak oleh Milan Rapaic menit 76’. Sebenarnya Italia memimpin lebih dulu ketika Vieri menceploskan bola menit 55’, namun keunggulan Italia Cuma bertahan sekitar seperempat jaman. Menit 73 Ivinca Olic menyamakan kedudukan menjadi satu sama.

Kekalahan atas Kroasia ternyata tidak menjadi bahan koreksi yang baik bagi Italia. Pada pertandingan selanjutnya, Italia hampir saja terjungkal lebih dini dari Piala Dunia. Menghadapi Meksiko yang masih beberapa kelas di bawahnya Italia bermian amburadul. Sampai menit ke 84’ Italia masih tertinggal satu gol dari Meksiko. Padahal Italia membutuhkan kemenangan untuk melaju ke babak 16 besar, minimal seri dengan syarat Ekuador harus bisa mengalahkan Kroasia pada pertandingan lainnya. Untung Italia mempunyai Alex Del Piero, yang pada menit ke 85  berhasil menyamakan kedudukan menjadi imbang, 1-1. Di lain tempat, Ekuador ternyata berhasil memenangkan petandingan terakhirnya atas Kroasia, dan Italia tertolong dengan menjadi Runner Up dibawah Meksiko.

Pada babak 16 besar Italia harus betemu dengan tuan rumah bersama, Korea Selatan. Secara materi Italia jauh lebih diunggulkan dari pada Korea Selatan. Meski pada babak penyisihan Italia terlihat kurang bertaji, tapi Italia tetaplah Italia yang mempunyai mental juara dibanding tim  pupuk bawang Korea Selatan. Namun Korea patut optimis, dengan modal sebagai juaru grup cukup untuk menguatkan mental mereka sebelum menghadapi sang “calon juara” Italia. Sebagai bukti adalah keberhasilan mereka menjungkalkan portugal, yang (juga) bertabur bintang.

Pertandingan Korea Selatan melawan Italia disambut hiruk pikuk penonton tuan ruham. Seluruh stadion menjadi berwarna merah khas warna Korea Selatan. Pertandingan dipimpin oleh pengadil terbaik dari Ekuador, Byorn Moreno. Ini adalah yang kedua kalinya memimpin pertandingan di Piala Dunia setelah sebelumnya menjadi pengadil antara Amerika Serika dan Portugal.

Pada momen inilah drama tersingkirnya Italia dimulai, dan “aktornya” Byorn Moreno.

Pertandingan berjalan dengan tempo yang sangat cepat dan keras, bahkan menjurus kasar. Menit ke-4 Italia sudah mendapat hukuman pinalti setelah satu pemain Korsel dijatuhkan bek Italia dikotak terlarang, untung Buffon sigap dan pinalti Ahn Jung Hwan gagal. Tempo masih tetap tinggi sampai akhirnya Italia behasil unggul lebih dahulu lewat tandukan Cristian Vieri yang memanfaatkan umpan tendangan pojok Francesco Totti menit ke-18. Karena kerasnya tempo pertandingan, Morena sampai-sampai mengeluarkan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah dari sakunya. Selain itu, Morena juga beberapa kali membuat sebuah keputusan kontroversial, salah satunya adalah menganulir gol Tommasi, karena dianggap telah terjadi off side terlebih dahulu.

Puncak kontroversi adalah ketika dikeluarkannya Frascesco Totti menit ke-103. Totti dianggap telah melakukan diving di depan kotak pinalti Korea Selatan. Kontak protes keras langsung dilancarkan para pemain dan ofisial tim nasional Italia, seakan tidak terima untuk kedua kalinya dikerjai oleh wasit setelah sebelumnya gol Domiano Tommasi dianulir. Totti adalah kartu As permainan Italia dalam Piala Dunia ini, dengan dikeluarkannya dia dari permainan, sudah tentu ini adalah kerugian sangat besar bagi kesebelasan dari negeri yang terkenal dengan pizza-nya ini. Italia akhirnya tersungkur lebih cepat, harapan untuk mengangkat tropi hanya tinggal impian. Namun demikian, publik Italia tidak sepenuhnya menyelahkan pemainnya. Para seporter yakin, aktor yang paling bertanggung jawab atas aib ini adalah dia yang bermata malas berkaos hitam pada pertandingan itu, Byron Moreno sang pengadil pertandingan.

Ancaman Mati dari Publik Itali.

Media italia langsung bersepekuasi bahwa ini adalah sebuah usaha, konspirasi untuk menyingkirkan Italia lebih dini dari perhelatan Piala Duni ini. Reaksi muncul dari mana-mana, termasuk jajaran kementerian Italia. “ wasit sungguh memalukan, ini benar-benar keji”, ujar Franco Frattini mewakili kementeian Italia. Tidak ketinggalan juga, masyarakat Italia, terutama seporter mereka memberi kecaman yang beraneka ragam kepada Moreno, bahkan dalam sebuah media mereka dengan tegas memberi ancaman mati kepda wasit berpostur tambun itu.

Beberapa saat setelah petandingan Italia versus Korea Selatan usai, seporter Italia membuat onar di sebuah stasion kereta di pusat kota. Namun, kerusuhan ini segera dapat dipadamkan oleh keamaan setempat dan keadaan kembali normal. Dalam aksi itu, para seporter meneriakkan sebuatan-sebutan yang menjelekkan sang wasit. “maling, maling, kamu telah mencuri petandingan ini”, kecamnya kepada Moreno.

Suara yang paling keras keluar dari media-media kenamaan asal Italia. Bruno Pizzul, seorang komentator kenamaan asal Italia mengatakan bahwa ini benar-benar sebuah pencurian. Wasit telah mencuri kemenangan dari Italia. Wasit telah melakukan hal yang sangat memalukan dalam sepak bola. Media kenamana Italia, La Gazzeta dello Sport juga membahas khusus perihal kekalahan Italia dari Korea. Tidak lupa media ini juga mengecam habis-habisan apa yang telah diberikan wasit Moreno kepada Italia, dengan menulis bahwa pertandingan ini adalah sebuah “kutukan dan sumpah serapah” kepada tim nasional Italia. “Italia pulang dari piala Dunia dengan kemarahan yang sangat besar”, tulisnya.

 

Yang paling ekstrem adalah bahwa ini konspirasi besar FIFA untuk menjegal Italia dan meloloskan tuan rumah ke babak selanjutnya. Namun FIFA membantah tudingan publik Italia ini. Melaui presidennya, Sepp Blatter FIFA mengatakan seharunya Italia harus bisa menerima kekalahan ini. Ini adalah permainan, suatu kelumrahan jika ada yang menang dan ada yang kalah. Bahkan Blatter meminta kepada publik bola Italia untuk menerima kekalahan ini apapun bentuknya, karena dengan sikap seperti ini akan semakin menunjukkan kehormatan tim nasional Italia sebagai salah satu tim yang disegani di persepakbolaan internasional.  Mengenai kepemimpinan wasit Blatter menilai tidak ada yang salah dengan kepemimpinan wasit moreno. “ wasit menjalankan tugasnya dengan baik tidak ada yang salah dengan dia (Moreno), hanya saja yang menjadi masalah adalah hakim garisnya. Dia kurang jelas ketika melihat posisi offside”, tegasnya kepada kepada BBC sport. Namun demikian dia berjanji akan segera membenahi masalah ini, dengan memilih wasit yang benar-benar mempunyai kredibilitas tinggi, “ini adalah ajang besar, dan harus dipimpin oleh wasit yang besar pula”.

Pun demikian dengan Moreno, meski mendapat kecaman yang sangat besar dari publik dan media Italia, dia kelihatan sangat tenang. Dia berujar bahwa dia tidak melakukan kesalahan ketika harus memutuskan untuk memberi kartu merah kepada bintang Italia, Francesco Totti. “saya tidak melihat tayangan ulang, tapi dia benar-benar telah melakukan diving”, tegasnya.

Walau sekuat apapun pembelaan yang diberikan Morena atas inseden kekalahan italia dari Korea, Morena tetaplah musuh bagi pecinta bola Italia, seperti halnya Ahn Jung Hwan. Dua orang itu tidak akan penah hilang begitu saja dari benak masyarakat Italia.

 

Byron Moreno: Pengadil Bermata Malas


 Italia mengalami kekalahan yang mengejutkan pada babak 16 besar Piala Dunia 2002 dari tuan rumah, Korea Selatan melalui babak perpanjangan waktu. Kekalahan Italia semakin perih karena bintang mereka, Francesco Totti juga mendapatkan hadiah kartu merah dari sang pengadil pertandingan. Selain kepada Ahn Jung Hwan, masyarakat Italia juga menimpakan kekesalan kepada sang pengadil pertandingan, Byron Moreno asal Ekuador, karena dianggap tidak becus dalam memimpin pertandingan. Naasnya, Moreno dianggap bersepakat untuk meloloskan tuan rumah ke babak selanjutnya. Cacian sampai ancaman pembunuhan pun gencar dialamatkan kepada wasit bermata malas itu.

 

Dialah yang terbaik di Ekuador

Mempunyai perawakan cukup sangar, dengan tinggi yang tidak begitu seberapa. Dialah Byron Moreno, wasit berkebangsaan Ekuador ini dipilih untuk mewakili negaranya dalam ajang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang. Modal bagus dia bawa dalam perhelatan akbar empat tahunan ini, yaitu sebagai wasit terbaik di negaranya.

Sebelum Piala Dunia 2002 tidak banyak yang mengenal sosok Byron Moreno. Publik lebih mengenal Piarluigi Collina dan Graham Poll sebagai wasit paling disegani penikmat bola. Collina adalah wasit jempolan asal Italia. Sudah beberapa pertandingan besar, baik nasional dan internasional, pernah dia pimpin. Setali tiga uang dengan Collina, Poll yang asli Inggris juga mempunyai segudang pengalaman dalam memimpin pertandingan. Mungkin kurang populernya eksistensi Morena (sebagai wasit) menyebabkan sangat terbatasnya sumber yang secara panjang lebar membahas tentang karirnya dalam dunia perwasitan.

Besar dengan nama lengkap Byron Aldemar Moreno Ruales. Morena dilahirkan tepat tanggal 23 November 1969 di sebuah kota di Ekuador bernama Quito. Seperti yang telah disebut di awal, bahwa dia adalah wasit tebaik Ekuador kala itu. Namun demikian wasit ini tidak pernah berhenti untuk membuat sensasi dan kontroversi. Dia pernah memberi perpanjangan waktu paling lama dalam sejarah sepakbol, 13 menit, dan yang kontroversi paling terkenal adalah ketika dia dianggap membuat konspirasi untuk memulangkan Italia lebih dulu diajang Piala Dunia 2002.

Sebuah Konspirasi Mengganjal Gli Azzuri

Status sebagai tim unggulan disematkan kepada tim nasional Italia dalam pehelatan even akbar empattahunan ini. Italia adalah finalis Piala Eropa dua tahun yang lalu, meskipun akhirnya dikalahkan oleh Prancis pad babak final di Rotterdarm melalui perpanjangan waktu. Dalam kancah Piala Dunia tidak ada yang meragukan tim nasional Italia. Bersama Jerman, Italia adalah pemegang trofi terbanyak untuk benua Eropa, masing-masing tiga kali. Tidak Cuma itu, Italia mempunyai Liga terbaik di dunia, Serie A. Dan ketika melihat susunan pemainnya, hampir tidak ada yang meragukan bahwa Italia memang pantas untuk mendapat kehormatan sebagai salah satu tim yang akan menggondol tropi bola dunia tahun ini.

Meskipun demikian ketika memasuki putaran final, Italia belum mampu menunjukkan bahwa dia adalah tim calon juara. Performanya masih begitu mengecewakan. Berada di grup G bersama Kroasia, Meksiko dan Ekuador, Italia diprediksi akan mudah melewatinya. Tetapi kenyataanya tidak seperti itu. Pertandingan pertama dapat mereka lewati dengan sempurna. Dua gol Cristian Vieri mampu menyudahi perlawanan Ekuador, masing-masing menit 7’ dan 27’. Performa apik Italia tidak berlanjut pada pertandingan selanjutnya. Kroasia yang pada pertandingan pertamanya dikalahkan oleh Meksiko berhasil menjungkalkannya dengan skor 2-1. Gol penentu kemenangan Kroasia dicetak oleh Milan Rapaic menit 76’. Sebenarnya Italia memimpin lebih dulu ketika Vieri menceploskan bola menit 55’, namun keunggulan Italia Cuma bertahan sekitar seperempat jaman. Menit 73 Ivinca Olic menyamakan kedudukan menjadi satu sama.

Kekalahan atas Kroasia ternyata tidak menjadi bahan koreksi yang baik bagi Italia. Pada pertandingan selanjutnya, Italia hampir saja terjungkal lebih dini dari Piala Dunia. Menghadapi Meksiko yang masih beberapa kelas di bawahnya Italia bermian amburadul. Sampai menit ke 84’ Italia masih tertinggal satu gol dari Meksiko. Padahal Italia membutuhkan kemenangan untuk melaju ke babak 16 besar, minimal seri dengan syarat Ekuador harus bisa mengalahkan Kroasia pada pertandingan lainnya. Untung Italia mempunyai Alex Del Piero, yang pada menit ke 85  berhasil menyamakan kedudukan menjadi imbang, 1-1. Di lain tempat, Ekuador ternyata berhasil memenangkan petandingan terakhirnya atas Kroasia, dan Italia tertolong dengan menjadi Runner Up dibawah Meksiko.

Pada babak 16 besar Italia harus betemu dengan tuan rumah bersama, Korea Selatan. Secara materi Italia jauh lebih diunggulkan dari pada Korea Selatan. Meski pada babak penyisihan Italia terlihat kurang bertaji, tapi Italia tetaplah Italia yang mempunyai mental juara dibanding tim  pupuk bawang Korea Selatan. Namun Korea patut optimis, dengan modal sebagai juaru grup cukup untuk menguatkan mental mereka sebelum menghadapi sang “calon juara” Italia. Sebagai bukti adalah keberhasilan mereka menjungkalkan portugal, yang (juga) bertabur bintang.

Pertandingan Korea Selatan melawan Italia disambut hiruk pikuk penonton tuan ruham. Seluruh stadion menjadi berwarna merah khas warna Korea Selatan. Pertandingan dipimpin oleh pengadil terbaik dari Ekuador, Byorn Moreno. Ini adalah yang kedua kalinya memimpin pertandingan di Piala Dunia setelah sebelumnya menjadi pengadil antara Amerika Serika dan Portugal.

Pada momen inilah drama tersingkirnya Italia dimulai, dan “aktornya” Byorn Moreno.

Pertandingan berjalan dengan tempo yang sangat cepat dan keras, bahkan menjurus kasar. Menit ke-4 Italia sudah mendapat hukuman pinalti setelah satu pemain Korsel dijatuhkan bek Italia dikotak terlarang, untung Buffon sigap dan pinalti Ahn Jung Hwan gagal. Tempo masih tetap tinggi sampai akhirnya Italia behasil unggul lebih dahulu lewat tandukan Cristian Vieri yang memanfaatkan umpan tendangan pojok Francesco Totti menit ke-18. Karena kerasnya tempo pertandingan, Morena sampai-sampai mengeluarkan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah dari sakunya. Selain itu, Morena juga beberapa kali membuat sebuah keputusan kontroversial, salah satunya adalah menganulir gol Tommasi, karena dianggap telah terjadi off side terlebih dahulu.

Puncak kontroversi adalah ketika dikeluarkannya Frascesco Totti menit ke-103. Totti dianggap telah melakukan diving di depan kotak pinalti Korea Selatan. Kontak protes keras langsung dilancarkan para pemain dan ofisial tim nasional Italia, seakan tidak terima untuk kedua kalinya dikerjai oleh wasit setelah sebelumnya gol Domiano Tommasi dianulir. Totti adalah kartu As permainan Italia dalam Piala Dunia ini, dengan dikeluarkannya dia dari permainan, sudah tentu ini adalah kerugian sangat besar bagi kesebelasan dari negeri yang terkenal dengan pizza-nya ini. Italia akhirnya tersungkur lebih cepat, harapan untuk mengangkat tropi hanya tinggal impian. Namun demikian, publik Italia tidak sepenuhnya menyelahkan pemainnya. Para seporter yakin, aktor yang paling bertanggung jawab atas aib ini adalah dia yang bermata malas berkaos hitam pada pertandingan itu, Byron Moreno sang pengadil pertandingan.

Ancaman Mati dari Publik Itali.

Media italia langsung bersepekuasi bahwa ini adalah sebuah usaha, konspirasi untuk menyingkirkan Italia lebih dini dari perhelatan Piala Duni ini. Reaksi muncul dari mana-mana, termasuk jajaran kementerian Italia. “ wasit sungguh memalukan, ini benar-benar keji”, ujar Franco Frattini mewakili kementeian Italia. Tidak ketinggalan juga, masyarakat Italia, terutama seporter mereka memberi kecaman yang beraneka ragam kepada Moreno, bahkan dalam sebuah media mereka dengan tegas memberi ancaman mati kepda wasit berpostur tambun itu.

Beberapa saat setelah petandingan Italia versus Korea Selatan usai, seporter Italia membuat onar di sebuah stasion kereta di pusat kota. Namun, kerusuhan ini segera dapat dipadamkan oleh keamaan setempat dan keadaan kembali normal. Dalam aksi itu, para seporter meneriakkan sebuatan-sebutan yang menjelekkan sang wasit. “maling, maling, kamu telah mencuri petandingan ini”, kecamnya kepada Moreno.

Suara yang paling keras keluar dari media-media kenamaan asal Italia. Bruno Pizzul, seorang komentator kenamaan asal Italia mengatakan bahwa ini benar-benar sebuah pencurian. Wasit telah mencuri kemenangan dari Italia. Wasit telah melakukan hal yang sangat memalukan dalam sepak bola. Media kenamana Italia, La Gazzeta dello Sport juga membahas khusus perihal kekalahan Italia dari Korea. Tidak lupa media ini juga mengecam habis-habisan apa yang telah diberikan wasit Moreno kepada Italia, dengan menulis bahwa pertandingan ini adalah sebuah “kutukan dan sumpah serapah” kepada tim nasional Italia. “Italia pulang dari piala Dunia dengan kemarahan yang sangat besar”, tulisnya.

 

Yang paling ekstrem adalah bahwa ini konspirasi besar FIFA untuk menjegal Italia dan meloloskan tuan rumah ke babak selanjutnya. Namun FIFA membantah tudingan publik Italia ini. Melaui presidennya, Sepp Blatter FIFA mengatakan seharunya Italia harus bisa menerima kekalahan ini. Ini adalah permainan, suatu kelumrahan jika ada yang menang dan ada yang kalah. Bahkan Blatter meminta kepada publik bola Italia untuk menerima kekalahan ini apapun bentuknya, karena dengan sikap seperti ini akan semakin menunjukkan kehormatan tim nasional Italia sebagai salah satu tim yang disegani di persepakbolaan internasional.  Mengenai kepemimpinan wasit Blatter menilai tidak ada yang salah dengan kepemimpinan wasit moreno. “ wasit menjalankan tugasnya dengan baik tidak ada yang salah dengan dia (Moreno), hanya saja yang menjadi masalah adalah hakim garisnya. Dia kurang jelas ketika melihat posisi offside”, tegasnya kepada kepada BBC sport. Namun demikian dia berjanji akan segera membenahi masalah ini, dengan memilih wasit yang benar-benar mempunyai kredibilitas tinggi, “ini adalah ajang besar, dan harus dipimpin oleh wasit yang besar pula”.

Pun demikian dengan Moreno, meski mendapat kecaman yang sangat besar dari publik dan media Italia, dia kelihatan sangat tenang. Dia berujar bahwa dia tidak melakukan kesalahan ketika harus memutuskan untuk memberi kartu merah kepada bintang Italia, Francesco Totti. “saya tidak melihat tayangan ulang, tapi dia benar-benar telah melakukan diving”, tegasnya.

Walau sekuat apapun pembelaan yang diberikan Morena atas inseden kekalahan italia dari Korea, Morena tetaplah musuh bagi pecinta bola Italia, seperti halnya Ahn Jung Hwan. Dua orang itu tidak akan penah hilang begitu saja dari benak masyarakat Italia.

 

Jumat, 12 Juni 2009

HERMENEUTIKA


(alat tafsir teks-teks sejarah)

Telah tiba saatnya kajian sejarah pada fase penulisan. Suatu fase yang secara teoritis adalah penutup dari pelbagai permasalahan penelitian sejarah. Setelah heuristik, kritik sumber baik intern ataupun ekstern, interpretasi, dan terakhir adalah tahap penulisan sejarah. Dalam penulisan sejarah terdapat paparan, penyajian, presentasi atau penampilan yang sampai kepada para pembaca atau pemerhati sejarah. Paling tidak dalam sebuah penyajian dalam bentuk penulisan mengandung diskripsi, narasi, dan tentunya analisis.
Dalam penulisan sejarah apabila kita menemui bahasa yang sulit dan atau meragukan, maka timbullah suatu persoalan tambahan ambiguitas dalam pemaknaan. Kekhawatiran itu mungkin bersifat senganja atau tidak sengaja. Masalah hermeneutik menjadi sangat kuat apabila dapat diduga bahwa ada maksud mengatakan bahwa ia akan segera membacanya?
Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani yang berarti penjelasan. Semula merupakan bagian dari filologi untuk mengkritisi otentitas teks. Bagi historiografi, hermeneutika merupakan alat kritik terhadap sumber-sumber sejarah. Dalam perkembangannya menjadi suatu tradisi berfikir atau refleksi filosofis yang mencoba menjelaskan konsep verstehen, atau pemahaman. Hermeneutika mencoba memahami makna sebenarnya dari sebuah dokumen, sajak, teks hukum, tindakaan manusia, bahasa, budaya asing, atau juga diri sendiri.
Menurut CLM, hermeneutika termasuk dalam kubu historikalis. Hermeneutika bertolak dari tradisi-tradisi relativisme dengan tokoh-tokoh sepeti Dilthey, Collingwood, dll. Mereka umumnya berpendapat bahwa perbuatan manusia hanya lebih sesuai sebagai bentuk kajian idiografik daripada kajian nomtetik.
Menurut Dilthey, tugas utama dari verstehen (pemahaman) adalah menghubungkan setiap ekspresi dengan peristiwa mental atau keadaan. Dia juga membagi verstehen menjadi dua bagian, yaitu pemahaman dasar dan pemahaman tinggi. Pemahaman dasar meliputi ekspresi individual, yang dapat befungsi tanpa perantara. Pemahaman tinggi berfungsi menyusun pelbagai ekspresi yang disediakan oleh pemahaman elementer sehingga menjadi suatu struktur yang saling berkaitan. Pemahaman tinggi harus menggunakan beberapa rujukan seperti inferensi berupa berfikir secara analogi atau menempatkannya di bawah suatu tipe umum.
Tradisi hermeneutika yang menjadi pembela utama pendekatan interpretif menolak kemungkinan suatu unifikasi (atas dasar-dasar empiris atau realis) antara ilmu-ilmu alam dengan kajian mengenai perbuatan, sejarah, dan masyarakat. Hermeneutika menekankan secara tegas perbedaan antara ilmu alam dengan ilmu kemanusiaan (humanisme). Asal-usul hermeneutika yang sangat panjang sebenarnya dapat dirunut sejak Arsitoteles. Hanya saja baru dianggap penting sejak Giambatista Vico yang menulis buku The New Science (1723). Vico mempertentangkan asal-usul yang berbeda antara alam denga masyarakat atau sejara. Mereka mempunyai jalan masing-masing. Dengan asumsi sebagai berikut, bahwa alam adalah ciptaan tuhan, sedangkan masyarakat dan ataupun sejarah adalah ciptaan manusia dengan inderanya.
Tambahnya lagi, manusia hanya dapat dipahami melalui sejarah karena dalam sejarah manusia dapat mengekspresikan dirinya pada waktu yang berbeda-beda. Dan dalam bentuk-bentuk ekspresi yang berbeda-beda itulah manusia secara langsung menyingkap karakter dirinya.
Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa hermeneutika sangat erat hubungannya penafsiran teks-teks dari masa lalu dan penjelasan perbuatan manusia sebagi pelaku sejarah. Adalah menjadi tugas sejarawan untuk memahami objek kajian dengan cara menafsirkan makna-makna dari semua peristiwa, proses serta perubahan keseluruhan masyarakat manusia. Sejarawan menjadi penjelas masa lalu dengan mencoba menghayati atau menempatkan dirinya dalam diri pelaku sejarah, dalam hal ini sering disebut dengan istilah Historical Mindedness . Dalam upaya memasuki diri pelaku sejarah dan mencoba memahami apa yang dipikirkan dan diperbuat oleh pelaku sejarah, sejarawan harus juga menggunakan latar belakang kehidupan dengan seluruh pengalaman hidupnya sendiri.
Oke!! Ada dua cara dalam menghadapi teks-teks sebagai sumber sejarah. Mula-mula teksnya sendiri ditafsirkan lalu perbuatan pelaku sejarah dijelaskan. Dalam teks dicoba dilihat keterpaduan antara masa lalu yang dikaji bahan-bahan yang menjadi sumber sejarah sehingga dari penafsiran itu dapat diambil suatu sikap atau kesimpulan tertentu. Kedua, mencoba menjawab pertanyaan mengapa pelaku sejarah berbuat demikian rupa sebagai yang telah diterangkan dalam teks-teks (sumber) tersebut. Atau denga kata lain, proses hermeneutika yang menghayati dari dalam pikiran orang lain, maksudnya tidak saja untuk menafsirkan makna teks, tetapi juga untuk mencoba memahami mengapa seorang pelaku sejaran sampai berbuat seperti itu. Baik dalam kontek baik ataupun buruk.