
”Engkau teman karibku, lebih dari saudara…
Jangankan makan minum, tidur kita bersama….
Bukankan engkau tahu dia itu milikku….
Namun begitu tega kau rampas segalanya, inikah balasannya akhlah teman setia…..”
Kurang-lebih begitulah liryc salah satu lagu dangdut yang sering saya dengarkan di daerah tempat saya tinggal, Pantura (Pantai Utara) Lamongan, yang kebanyakan penduduknya adalah nelayan.
Irama musik yang berkembang di Indonesia sekitar tahun 1960-an itu hampir setiap hari menghiasi rumah-rumah penduduk di daerah tersebut. Tidak hanya daerah itu saja, tetapi mungkin hampir seluruh daerah di Indonesia akan sering ditemui lantunan lagu itu, yaitu dangdut. Memang dandut bukan musik asli Indonesia, melainkan campuran aroma melayu dan India, tetapi dangdut seakan-akan sudah mendarah daging dengan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama mereka yang berada di kelas pekerja.
Tetapi akan menjadi aneh ketika kita mendengar dangdut banyak didendangkan di luar Indonsia, terutama di Amerika Serikat. Ya, baru-baru ini ada semacam audisi pencarian bakat penyanyi dangdut di Amerika. Pelaksana audisi tersebut adalah NSR Production, yang dipresideni oleh Rissa Asnan, seorang Indonesia yang sekarang menetap di Amerika. Kenapa ini menjadi sangat aneh? Hal ini disebabkan karena amerika adalah negara yang sangat jauh korelasinya dengan musik dangdut. Amerika kita kenal adalah Negara yang sangat terkenal denga nuansa-nuansa music rock, jazz dan musik-musik modern lainnya.
Pada awalnya Rissa membagikan selebaran kepada sejumlah media massa, baik Koran lokal maupun Koran-koran milik komunitas Indonesia yang ada di Philadelphia, Amerika. Dalam selebaran tersebut Rissa mengajak warga Amerika untuk berpartisipasi dalam kontes penyanyi dangdut idaman. “ingin kondang di Indonesia? Ikut dong”, begitulah bunyi sayembara tersebut yang juga dipasang di saluran youtube. Dan tidak disangka-sangka, ternyata hasil dari sayembara tersebut cukup bagus untuk kalangan masyakat Amerika. Sekitar 50 peserta mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti audisi tersebut. Peserta dari audisi tersebut tidak hanya warga asli amerika saja, melainkan juga warga pendatang yang sudah menetap di Amerika.
Audisi tersebut di beri tema “Dangdut in Amerika”. Konkritnya, Dangdut in Amerika adalah sebuah ajang audisi publik Amerika untuk membawakan lagu-lagu dangdut dengan goyangan yang khas. Para kontestan sendiri akan diberi pilihan lagu dalam melakukan audisi tersebut. Dan pada akhirnya, pemenang dari audisi tersebut nantinya akan diterbangkan ke Indonesia untuk manggung di tengah masyarakat Indonesia.
Selain sebagai ajang audisi, atau pencarian bakat penyanyi dangdut di Amerika, ajang ini juga ditujukan untuk menjadi salah satu sarana pertukaran seni budaya antara Amerika dan Indonesia. Kita tahu bagaiman masyarakat Indonesia dengan mudah menerima musik-musik yang berasal dari Amerika, sehingga diharapkan masyarakat Amerika juga dapat menerima musik Indonesia. Terkhusus adalah musik dangdut.
Proses seleksi dilakukan oleh Rissa dibantu oleh Toni Washington, seorang wanita penyanyi profesional kulit hitam, seleksi dilakukan di gedung pusat kebudayaan warga kulit hitam di Howthorne, selatan Philadelphia. Seperti halnya audisi-audisi yang lain, mereka satu per satu diminta unjuk kebolehan bernyanyi. Lalu ditanya mengenai pengetahuan tentang Indonesia, kemudian disodori teks lagu Bekas Pacar. Dan tiadak kalah penting mereka juga diminta untuk unjuk kebolehan dalam bergoyang.
Selain goyangan, yang telah menjadi pasangan wajib dangdut, peserta juga diharapkan mempunyai kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Meskipun pada akhirnya banyak dari peserta audisi yang kesulitan untuk melafalkan bahasa indonesia dengan fasih. Seperti kata “cuma” menjadi “kuma“.
Meskipun demikiaan keantusiasan masyarakat amerika patut diacungi jempol, meskipun bukan orang indonesia, tetapi keingina mereka yang kuat untuk mau mengikuti audisi musik yang biasanya sering terdengar di pelosok-pelosok desa di Indonesia itu. Selain itu, beradaan dangdut di Amerika juga menandalan bahwa dangdut tidak lagi menjadi musik kalangan bawah dan hanya di Indonesia saja, tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang dan negara-begara lain di luar Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar