Senin kemaren merupakan rekorku terlama di warung kopi. Terhitung sejak pukul 16.00 sore hari sampai tutupnya warung kopi itu, yaitu sekitar pukul 00.00 dini hari. Delapan jam aku di warung kopi—seharusnya ini adalah jam ideal untuk istirahat. Memang tidak ada yang tidak menarik bagiku sesuatu hal yang berhubungan dengan kopi dan warung kopi. Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di warung kopi, tentunya tidak menafikkan kewajiban terakhirku, Skripsi.
Namun, hari itu memang hari yang sangat nyaman untuk sekadar menghabiskan waktu di warung kopi. Sekitar pukul tiga sore, saya mengajak salah seorang kawanku untuk ngopi, dan dia menyetujuinya. Untuk meramaikan suasana, kami mengajak satu teman lagi. Pertamanya teman kami itu agak kaget dengan ajakan kami ngopi di “sore” hari, mungkin kesannya cukup aneh. “ngopi kok sore, ngopi ya malam”, mungkin berontak batinnya kala itu.
Ngopi di sore hari merupakan hal yang sangat aneh, dan jarang ditemui di Yogyakarta. Selain karena budaya ngopi di Yogya yang masih sangat baru, kopi juga sangat identik dengan begadang, dan begadang identik dengan malam. Namun tidak untuk daerahku. Sebuah daerah yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, dimana budaya ngopi laiknya budaya mandi, tiga kali sehari. Dan itu menular di warung kopi ini. Biasanya kami pergi ngopi sekitar jam 9 pagi, jam 4 sore dan sekitar habis jamaah sholat isya’. Dipilihnya waktu itu mungkin itu merupakan jam-jam yang cukup santai.
Kembali ke peristiwa hari senin. Sepanjang sore sampai dini hari itu saya seorang temanku hanya menghabiskan masing-masing satu cangkir kopi, dua bungkus nasi kucing, satu gelas es the, dan terkhusus temanku, beberapa batang rokok—saya masih alergi asap rokok. Hahahahah…. Awalnya kami hanya bertiga, setelah menjelang magrib salah seorang kawan datang, dan akhirnya kita menjadi berempat. Namun, tidak berselang lama, dua dari kami memutuskan untuk kembali ke kampus barang sejenak. “Aku enek acara sek cok”, kata mereka berdua kira-kira.
Kini tinggal kami berdua, saya dan teman saya, sebut saja namanya Sjam. “smsen arek2 mbah”, kataku. Si Mbah—panggilan akrab Sjam—segera mengirim sms ke Spy. “oke, entenono teko ku”, balas Spy dengan bahasa SMS khasnya. Lama kami menunggu kedatangan Spy. “jancok..” umpat Sjam dengan logat Yogya yang masih sangat kental. Tidak beberapa lama kemudian akhirnya Spy muncul juga. Dia tidak sendirian. Di sampingnya berjalan tegap Ndro—yang katanya punya darah kejawen, dan saya punya darah biru.
Tidak lama kemudian ada SMS dari All, “cah-cah masih di sana gak Mas?”, tulisnya dengan sedikit manja.
“masih..”, kataku—tapi tidak manja.
Semakin malam, gerombolan kami semakin banyak, yang awalnya Cuma berdua kini terus bertambah. Ada Jomblang, Ucok, dan juga Irul bersama dua teman cewek—yang juga temanku—Encik dan Noor. Karena semakin banyak orang, obrolan pun nampaknya semakin menarik dan riuh. Jomblang tidak henti-hentinya memainkan cocot busuknya. Ucok sedari tadi hanya tersenyum, seperti biasa. Sjam sibuk mengirim sms ke beberapa nomer cewek yang ada dalam listnya. Selain itu Spy nampaknya lagi banyak masalah. Rencana yang dia targetkan beberapa hari ini nampaknya gagal total. Dan saya, masih memikirkan kapan rampung.
Selain kejadian-kejadian unik di gerombolan kami, saya juga menangkap pelbagai fenomena di warung kopi favorit kami. Banyak teman-teman gerakan dengan kaos khasnya yang asik bercengkrama. Mungkin saja mereka akan melakukan mogok makan esoknya, dan sekarang mereka merancang teknik di lapangan besok. Di pojokan beberapa pemuda asik juga dengan kartu yang dia genggam.
Di sudut lain ada yang lagi merasakan syahdunya berkasih-kasih dengan sang pacar. Mata ini juga menangkap sepasang pasangan yang nampaknya lagi kesandung masalah. Si cowok terlihat cuek dengan sebatang rokok terselip di jari, sedangkan si cewek terlihat terus mengomel dan nyerocos kepada cowoknya. Nampaknya mereka sedang ditimpa virus ketidakcocokan dan ketidaknyamanan. Hahahaha…
Banyak juga anak-anak SMA yang menghabiskan malamnya dan memilih untuk ngedate bersama pasangannya di warung kopi ini. “ah, rupanya mereka sudah pada berubah paradigmanya untuk memilih tempat kencan”, batinku.
Ah, biarkan saja. Terserah apa maunya mereka yang ada di warung kopi. Toh tujuan utamanya adalah ngopi, jadi biarlah mereka berkreasi dengan kopi dan warungnya. Sungguh nikmat menghabiskan hari di warung kopi. Apalagi di kala senja mulai menyapa seraya berucap “Daaaa”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar