Rabu, 17 November 2010

Senja di Warung Kopi

Senin kemaren merupakan rekorku terlama di warung kopi. Terhitung sejak pukul 16.00 sore hari sampai tutupnya warung kopi itu, yaitu sekitar pukul 00.00 dini hari. Delapan jam aku di warung kopi—seharusnya ini adalah jam ideal untuk istirahat. Memang tidak ada yang tidak menarik bagiku sesuatu hal yang berhubungan dengan kopi dan warung kopi. Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di warung kopi, tentunya tidak menafikkan kewajiban terakhirku, Skripsi.

Namun, hari itu memang hari yang sangat nyaman untuk sekadar menghabiskan waktu di warung kopi. Sekitar pukul tiga sore, saya mengajak salah seorang kawanku untuk ngopi, dan dia menyetujuinya. Untuk meramaikan suasana, kami mengajak satu teman lagi. Pertamanya teman kami itu agak kaget dengan ajakan kami ngopi di “sore” hari, mungkin kesannya cukup aneh. “ngopi kok sore, ngopi ya malam”, mungkin berontak batinnya kala itu.

Ngopi di sore hari merupakan hal yang sangat aneh, dan jarang ditemui di Yogyakarta. Selain karena budaya ngopi di Yogya yang masih sangat baru, kopi juga sangat identik dengan begadang, dan begadang identik dengan malam. Namun tidak untuk daerahku. Sebuah daerah yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, dimana budaya ngopi laiknya budaya mandi, tiga kali sehari. Dan itu menular di warung kopi ini. Biasanya kami pergi ngopi sekitar jam 9 pagi, jam 4 sore dan sekitar habis jamaah sholat isya’. Dipilihnya waktu itu mungkin itu merupakan jam-jam yang cukup santai.

Kembali ke peristiwa hari senin. Sepanjang sore sampai dini hari itu saya seorang temanku hanya menghabiskan masing-masing satu cangkir kopi, dua bungkus nasi kucing, satu gelas es the, dan terkhusus temanku, beberapa batang rokok—saya masih alergi asap rokok. Hahahahah…. Awalnya kami hanya bertiga, setelah menjelang magrib salah seorang kawan datang, dan akhirnya kita menjadi berempat. Namun, tidak berselang lama, dua dari kami memutuskan untuk kembali ke kampus barang sejenak. “Aku enek acara sek cok”, kata mereka berdua kira-kira.

Kini tinggal kami berdua, saya dan teman saya, sebut saja namanya Sjam. “smsen arek2 mbah”, kataku. Si Mbah—panggilan akrab Sjam—segera mengirim sms ke Spy. “oke, entenono teko ku”, balas Spy dengan bahasa SMS khasnya. Lama kami menunggu kedatangan Spy. “jancok..” umpat Sjam dengan logat Yogya yang masih sangat kental. Tidak beberapa lama kemudian akhirnya Spy muncul juga. Dia tidak sendirian. Di sampingnya berjalan tegap Ndro—yang katanya punya darah kejawen, dan saya punya darah biru.

Tidak lama kemudian ada SMS dari All, “cah-cah masih di sana gak Mas?”, tulisnya dengan sedikit manja.

“masih..”, kataku—tapi tidak manja.

Semakin malam, gerombolan kami semakin banyak, yang awalnya Cuma berdua kini terus bertambah. Ada Jomblang, Ucok, dan juga Irul bersama dua teman cewek—yang juga temanku—Encik dan Noor. Karena semakin banyak orang, obrolan pun nampaknya semakin menarik dan riuh. Jomblang tidak henti-hentinya memainkan cocot busuknya. Ucok sedari tadi hanya tersenyum, seperti biasa. Sjam sibuk mengirim sms ke beberapa nomer cewek yang ada dalam listnya. Selain itu Spy nampaknya lagi banyak masalah. Rencana yang dia targetkan beberapa hari ini nampaknya gagal total. Dan saya, masih memikirkan kapan rampung.

Selain kejadian-kejadian unik di gerombolan kami, saya juga menangkap pelbagai fenomena di warung kopi favorit kami. Banyak teman-teman gerakan dengan kaos khasnya yang asik bercengkrama. Mungkin saja mereka akan melakukan mogok makan esoknya, dan sekarang mereka merancang teknik di lapangan besok. Di pojokan beberapa pemuda asik juga dengan kartu yang dia genggam.

Di sudut lain ada yang lagi merasakan syahdunya berkasih-kasih dengan sang pacar. Mata ini juga menangkap sepasang pasangan yang nampaknya lagi kesandung masalah. Si cowok terlihat cuek dengan sebatang rokok terselip di jari, sedangkan si cewek terlihat terus mengomel dan nyerocos kepada cowoknya. Nampaknya mereka sedang ditimpa virus ketidakcocokan dan ketidaknyamanan. Hahahaha…

Banyak juga anak-anak SMA yang menghabiskan malamnya dan memilih untuk ngedate bersama pasangannya di warung kopi ini. “ah, rupanya mereka sudah pada berubah paradigmanya untuk memilih tempat kencan”, batinku.

Ah, biarkan saja. Terserah apa maunya mereka yang ada di warung kopi. Toh tujuan utamanya adalah ngopi, jadi biarlah mereka berkreasi dengan kopi dan warungnya. Sungguh nikmat menghabiskan hari di warung kopi. Apalagi di kala senja mulai menyapa seraya berucap “Daaaa”

MERAPI DAN KEMANUSIAAN part 2

Setelah seharian libur mengadbi atas nama kemanusiaan, sabtu malam Irul—salah seorang teman saya—mempunyai rencana untuk memberi bantuan kepada salah seorang teman satu kelasnya di kampus. Awalnya rencana ini hanya ditujukan kepada teman-teman satu angkatan dan satu kelasnya saja, namun karena berbagai alasan maka dia akhirnya memutuskan untuk mengajak kawan yang lain dalam kegiatan ini. Yang bisa menyempatkan waktu bisa langsung ikut menengok keadaan temannya tadi di barak pengungsian Lapangan Tembak Magelang, yang tidak bisa datang cukup melekatkan beberapa lembar rupiah dan tentunya tidak lupa doa. Salah satu teman yang diajak waktu itu adalah saya.

Minggu, 7 November 2010, tiga hari menjelang hari Pahlawan, tiga hari sebelum kedatangan Obama (kalau jadi datang), 12 hari setelag letusan pertama Merapi dan 2 hari setelah letusan terbesar Merapi sepanjang lebih dari satu abab, saya dan tiga teman memutuskan untuk pergi ke Salaman. Ke subuah barak pengunsian yang dilokasikan persis di lapangan tembak magelang.

Seperti halnya tempat-tempat pengungsian yang lain,barak lapangan tembak juga kelihatan ricuh dan ramai. Namn, barak ini nampak berbeda karena hampir sebagian besar relawannya adalah berasal dari korps marinir. “lek ne kene hampir kebutuhan logistik terpenuhi, dan penangan seluruhnya dipegang oleh mereka yang berbaret merah”, tegas keceng, salah satu pengungsi dari keluraha srumbung, magelang.

Banyak sekali catatan-catatan penting yang saya kumpulkan dari perjalan antara kota Yogyakarta dengan Magelang, terkhusus Salaman. Perjalana yang biasanya memakan waktu kurang dari satu jam, terasa sangat lama. Beberapa saat setelah keluar dari kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta, saya langsung dihadapkan dengan kota Salam yang keadaanya sudah begitu parah. Secara letak geografis kota ini terletak relativ jauh dari Merapi, akan tetapi angin yang sering berhembus ke barat telah membawa ratusan kubik debu dan pasir merapi yang keluar bebarengan ketika Merapi meletus. Keadaan yang tidak jauh berbeda adalah kota Muntilan, keadaannya sangat parah. Jalan aspal yang biasanya terlihat sangat mulus kali ini harus tertutup oleh tebalnya pasir yang sudah kadung menggumpal karena guyuran air hujan yang nanggung. Sekitar lima sampai sepuluh senti tebal pasir diatas aspal, dan itu sangat mengganggu tranportasi yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang dan daerah-daerah sekitarnya, termasuk Semarang dan Wonosobo.

Speedometer melulu menunjukkan angka makimal 40 km/jam. Lebih dari itu resiko ditanggung pengendara. Selain itu jarak pandang mata juga sangat terganggu dengan sisa abu vulkanik yang mengguyur kota Magelang tempo hari. Semuanya serba terbatas. Jalan yang seharusnya sangat lebar—karena empat ruas—terasa satu ruas saja, aspal yang dasarnya halus harus mengalah dengan pasir yang menindihnya.

Kota Seribu Pengungsi

Sepanjang Salam-Muntilan, mata saya tidak pernah luput dari banyaknya pengungsi yang ada di kota itu. Pada dasarnya tidak ada tempat yang benar-benar layak dijadikan tempat pengungsian di Magelang. Dari ujung timur sampai pelosok barak Magelang semuanya terguyur abu yang sangat tebal. Oleh karena itu, barak pengungsian yang ada juga kondisinya benar-benar tidak layak.

Lebih dari sepuluh barak pengungsian yang saya jumpai sepanjang dua kecatamana pembatas Magelang dengan Yogyakatarta itu. Dan kesemuanya kondisinya sungguh memprihatinkan. Mata relawan masih tertuju kepada Jogya, padahal di Muntilan juga masih sangat membutuhkan tenaga waktu itu.

Kondisi juga diperparah oleh luapan lahar dingin yang memenuhi bantaran kali Krasak. Sehingga banyak pengungsi yang kemudian dipindahkan ke beberapa wilayah di Sleman dan Kulonprogo.

Relokasi Borobudur

Mata saya juga tertuju pada Sebuah bangunan agung menjulang tinggi diantara perbukitan Menoreh. Sebuah banguna yang dibangun di masa dinasti Sailendra, Borobudur. Menurut berita yang lihat di TV, Borobudur tertutup abu setelah 30 sentimeter—semoga ini tidak salah. Selain itu, kondisi diperparah dengan luluhlantaknya pertamanan yang menghiasi eloknya Borobudur. Panorama hijau Boronbudur seketika itu berubah bak sebuah daerah mati yang habis diserbu oleh sepasukan Alien dari luar angkasa. Semuanya serba abu-abu.

Nampaknya ini akan menjadi pekerjaan rumah pemkab Magelang dalam mengembalikan ikon Borobudur sebagai lambang wisata Indonesia. Dalam beberapa artikel saya sempat membaca bahwa turis mengenal hanya dari 3B;Borobudur, Bromo dan Bali. Dan Borobudur telah sakit, dalam artian butuh waktu yang cukup lama untuk kembali merelokasi tempat wisata andalak keluarga ini.

Kota Mati, Lalulintas tetap Jalan

Setelah hampir setengah hari di barak pengungsian Lapangan Tembak, saya kembali ke Yogyakarta. Selain mendapatkan beberapa pengendara motor yang terjatuh akibat jalan yang tidak bersahabat lagi, saya juga mengamati kondisi kota Muntilan dan Salam malam hari. Gelap gulita. Tidak ada listrik yang menerangi, tentunya tidak ada manusia yang menghuni. Saya kurang tahu, apakah ini kebijakan pemerintah daerah setempat untuk mematikan listrik, ataukah memang di ruham-rumah yang tersebar sepanjang jalan itu sudah ditinggal oleh penghuninya. Cahaya hanya saya dapatkan di bebepa SPBU di kota itu, itupun tidak semua.

Meskipun demikian, kondisi ini tidak mempengaruhi keadaan lalu lintasnya. Kendaraan-kendaraan yang melintasi masih ramai seperti biasa, tetapi dengan kecematan jauh dari biasa.

MERAPI DAN KEMANUSIAAN (PART 1)

Kamis, (4/11) malam, menuju jam 00.00 WIB dini hari, saya dengan sekitar 5 teman saya baru saja pulang dari ritual wajib tiap malam menginjak jam Sembilan keatas, ngopi. Tidak ada firasat apapun malam itu, yang jelas waktu Merapi sangat eksplosif. Akan tetapi tidak ada firasat sama sekali bahwa malam itu adalah “puncaknya”. Beberapa teman asik dengan film lawas yang baru didapat oleh salah seorang teman, “Machete”, film sadis yang memerankan bejibun bintang film Hollywood.

Tidak lama menikmati prolog film, tiba-tiba ada ketokan pintu. Rupanya Ndro, dia memberitahu kami bahwa telah terjadi huhan kerikil yang begitu lebat. Penasaran. Kami langsung keluar, dan memang benar. Suara asbes di atas kami begitu riuh oleh gempuran kerikil yang kira-kira sebesar biji merica itu. Sekadar info bahwa letusan merapi malam itu merupakan letusan terbesar Merapi selama lebih dari satu abad. Bahkan jauh lebih besar dari ledakan sepuluh bulan gunung galunggung.

Rasa penasaran kami semakin membesar, “Di Sebelah Atmajawa—Univ.Atmajaya—mungkin terlihat kondisi Merapi. Kami bergegas ke sana. Hasilnya nihil. Keadaan ini semakin membuat rasa penasaran kami semakin menggebu, dan kami memutuskan untuk menuju jalan Affandi—dulu Gejayan—sambil mencari beberapa masker untuk persiapan. Merapi tetap saja tidak bisa dipantau dari Gejayan, namun kami bisa melihat kondisi yang lain, salah satunya adalah banyak pengungsi yang memilih untuk meninggalkan Jogja atas dan lebih memilih ke bawah. Kabarnya Posko pengungsian di UII juga dikosongkan, karena UII nyata-nyata telah menjadi sasaran empuk Hujan abu plus kerikil dini hari itu.

Dini hari ini menjadi begitu mencekam, karena semua orang terlihat sangat panic. Kabarnta banyak sekali korban mala mini. Awan Panas—yang lebih masyhur dengan Wedhus Gembel—dengan pongahnya melahap dan menyapu bersih sisa-sisa peradaban di sebagian besar kecamatan cangkringan, bahkan sampai radius 15 km dari Gunung Merapi.

Sangat ingin rasanya berbagi dan membantu para pengungsi Merapi yang lagi suka bergurau. Tapi beberapa pertanyaan dalam benak kami. “apa yang bisa kita bantu saat ini? Kita tidak berbekal banyak logistic. Mau membantu sebagai relawan kita tidak tahu seperti apa prosedurnya, malah-malah kita yang nantinya akan menjadi beban. Untuk itu, sementara ini kami menunggu perkembangan terlebih dahulu.

Esoknya, kami belum bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika itu muncul ide jahannam dari otak ini untuk melarikan diri ke Bantul, “mungkin akan lebih aman disana”, batinku menggerutu. Dan memang akhirnya saya memilih untuk pergi ke Bantul—tepatnya rumah Sjam. Akan tetapi saya sempat menitip pesan ke bebarap kawan, “jika memang nanti mau menjadi relawan dan tenaga saya dibutuhkan saya siap dikontak”, masih agak ragu.

Tepat pukul satu, setelah menunaikan solah jumat, saya melihat siaran TV bahwa GOR UNY sudah mulai digunakan sebagai posko pengungsian, dan tidak lama kemudian saya mendapat sms dari Irul bahwa Jogja butuh banyak relawan untuk menyalurkan logistic. Meski saya belum tahu mau membantu dimana. Bayangan saya waktu itu, minimal bisa mebantu di GOR lah. Sampai UNY, keadaan telah begitu ramai. Mahasiswa dari pelbagai latarbelakang jurusan terlihat telah begitu siap untuk mengabdikan diri atas nama kemanusiaan. Persiapan dasar logistic telah banyak terkumpul, tapi saya yakin itu akan sangat kekurangan nantinya. Masker sudah pada tergantung gagah di bagian bawah muka masing-masing relawan. Tersirat sebuah heroisme “ Mari Rapatkan barisan atas nama Humanisme”.

Saya, Sjam, Irul, dan Irul hanya ikut membatu, coordinator diserahkan sepenuhnya pada teman-teman baru. Ndro tidak bisa menemani kami, karena baru saja dapat info bahwa kakeknya baru saja dipanggil Sang Moho Agung menghadap.

Waktu rasanya lama sekali, kami ingin segera menjadi seorang relawan. Mungkin saja, waktu itu saja tiba-tiba menjadi seseorang humanis lagi moralis. Saya ingin membantu saudara, bahkan himbauan Emak dan Kakak saya untuk pulang kampung saya tolak. “Mak, Cak aku pengen ngewangi Arek-arek ne kene, njalok dongane sampean ae..”, bisik batinku kala itu.

Sekitar pukul lima sore kita menuju lokasi, SMP 2 Kalasan. Meski kabar masih simpang siur apakah ada pengungsi di sana, tapi kami tetap bertekad untuk pergi kesana. Sempat beberapa salah jalur dan salam tempat akhirnya kami sampai di lokasi itu. Akan tetapi sepanjang perjalanan hari saya sudah merasa tidak enak. “Mbah ketoe wes gak enek peradaban maneh ne kene”, kataku pada Sjam. Kembali ke SMP 2 Kalasan. Benar dugaanku dengan Sjam, SMP 2 telah nyata-nyata tergembok rapat, dan tanpa berfikir panjang lagi saya memutuskan untuk mengajak teman-teman segera turun. Asumsi saya waktu itu adalah kita tidak tahhu kemungkinan terbesarnya seperti apa, kita tidak ada yang tahu medan dan tidak ada yang membacking, selain itu berapa jarah SMP 2 Kalasan dengan Gunung Merapi? Itu pertanyaan besarku sama Sjam waktu itu.

Setelah diskusi kecil, kami memutuskan menyuplai barang ke posko pengungsian Klaten via Prambanan. Akan tetapi permasalah tidak berhenti sampai disitu saja. Adalah keegoisan teman-teman Ilmu sejarah yang bersikukuh membedakan tujuan pengiriman. Saya tidak berhak menyalahkan mereka, karena toh itu usaha mereka. Yang saya sesalkan kenapa tidak ada koordinasi sebelumnya, agar jelas kemana mau di drop barang-barang logistic itu.

Setelah berdebat panjang-lebar akhirnya diputuskan bahwa sebagian barang di kirim ke Klaten dan sebagian besar dibawa kembali ke Yogyakarta—baik itu di Paingan ataupun di Maguwo.

Menjadi orang yang menyembah pada nilai-nilai humanisme memang tidak semudah membalikkan tangan, segala sesuatu ada saja rintangannya. Tabik!

Hewan Kurban dan Mejid Kulon

beberapa saat setelah khotib resmi menutup khotbahnya, dan menandakan solat idul adha secara resmi selesaia, saya dan beberapa teman langsung lari menuju arah masjid--yang sering kami sebut dengan sebuat Mejid Kulon. Hanya satu hal yang menjadi tujuan kami kala itu, yaitu mengetahui seberapa banyak hewan kurban yang telah tersedia di halaman masjid. Tidak hanya sebatas itu, kami juga mencari informasi di masjdi sebelah--untuk yang ini kami sering namai dengan sebutan Mejid Etan, sudah berapa banyak hewan kurban yang menggelayut di pagar-pagar seputaran masji. Hal ini kami lakukan hampir setiap tahun.

sebelum lebih jauh bercerita, saya akan menjelaskan kenapa kami memberi istilah dua masjid yang saling bersebelahan itu dengan istilah-istilah aneh seperti itu. Di desa kami--desa yang relatif sangat kecil luas wilayah administratfinya--terdapat dua golongan besar--sebenarnya bukan sama besar, tapi jomplang--yang masing-masing mencoba melancarkan dominasi mereka. Salah satunya adalah dengan media masjid. Meskipun desa kami kacil, namun tidak demikian dengan masjid-masjid di desa kami. Kalau pembaca pernah berkunjung di kampus Universitas Negeri Yogyakarta, dan pernah melihat ukuran masjid di dalamnya, maka seperti itulah kira-kira besarnya masing-masing masjid di desa kami.

Terdapat dua masjid, dan puluhan mushola, kesemuanya tersebar di pelbagai sudut desa kami. Terutama masjid, keduanya saling bersaing pengaruh dan kharisma. Bahkan persaiangan bentuk bangunan juga tidak terelakkan. Ketika mejid kulon menambah jumlah bangunan,maka mejid etan sebisa mungkin akan mengikutinya. Pun sebaliknya, jika mejid etan menambah bangunan atau hiasan pada masjidnya, maka mejid kulon sudah barang tentu akan menyaingi keindahan masjid saingannya itu.

Dua masjid itu punya dua golongan besar yang sudah saya jelaskan pada paragraf-paragraf awal tadi. Dan bahkan untuk selanjutnya kedua masjid itu menjadi sebuah simbol penamaan bagi para pengikut fanatiknya. semisal, "ah sampean wong mejid etan", atau " la sampean wong mejid kulon lapo dolan ne kene (mejid etan).

Pada awalnya penamaan kedua masjid itu karena letak masjid-masjid itu. Mejid kulon, karena berada di barat jalan, dan mejid etan, karena berada di sebelah timur jalan utama desa saya. Meskipun demikian, kedua masjid itu terletak tidak saling berjauhan. Kira-kira jarak antar kedua masjid itu adalah 40 meter-an. Meskipun demikian, secara idiologis jaraknya bisa berkisar ratusan kilo meter.

Kembali ke hewan kurban. masjid saya--Mejid Kulon--seperti tahun-tahun sebelumnya paling banyak hanya ada sekitar 9 kambing. Sapi, mungkin sepuluh tahun sekali. Bahkan, sejauh pengetahuan saya, pernaj suatu ketika hewan kurban di depan masjid cuma ada tiga ekor saja. Sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan perolehan hewan kurban di mejid etan, lebih dari duapuluh ekor itu jelas. Dan satu lagi, selalu ada Sapi di setiap kurbannya. Itu menjadi bahan paling manjur untuk mengolok-ngolok kami, para simpatisan mejid kulon.

Rabu, 27 Oktober 2010

Kenangan dengan Sebuah Karambol Butut

{Kisah Sebuah Karambol (tanpa hiks-hiks)……}



Pagi-pagi buta, saya dan beberapa teman baru datang dari menonton pertandingan sepak bola di salah satu rumah kawan kami, tiba-tiba dikejutkan dengan raibnya sebuah benda berharga yang selama beberapa hari terakhir selalu menemani kami menghabiskan waktu menunggu detik-edit ujian kelulusan. Zen dengan tergopoh berujar bahwa benda kesayangan—karambol—kami ini telah diamankan (baca, dirampas) oleh salah satu ustad kami. “tadi dipakai main anak-anak kelas dua temannya wahib, terus ketahuan sama ustadz Kholik”, kabarnya singkat. Kontan membuat kami kaget bukan main. Sebuah benda ajaib yang telah menemani kejenuhan kami selama berahari-hari menjelang Final (ujian Nasional) ternyata bernasib sampai disini saja.


***

Terakhir kali bermain karambol saya lakukan pas kelas enam sekola dasar. waktu itu saya benar-benar kranjingan untuk memainkan benda-benda bulat-pipih itu di atas sebuah papan kayu bertabur tepung terigu itu. Hampir tiap hari sehabis duhur saya mesti menyisihkan waktu untuk berbondong datang ke rumah teman—si mpu karambol, dan sesegara mungkin mengambil posisi yang pas dan menunjuk lawan untuk bertanding satu lawan satu.


Setahuku, karambol ini merupakan karambol ketiga yang saya temui di desaku. Satu di rumahnya pak Najik, kedua di rumah Kaji Anshor, dan ini yang ketiga, di rumah salah satu teman karibku. Karambol ini dibuat sendiri oleh bapaknya, kebetulan saya juga ikut serta menyumbang tenaga dan waktu dalam proses pembuatan. Sesekali saya mengamplas permukaan-permukaan yang masih kasar. Kemudian menjemurnya, dan diamplas lagi. Proses ini dilakukan berulang-ulang sampai permukaan papan karambol itu benar-benar halus, dan siap dimainkan.


Meskipun masih sangat amatir, tetap saja itu tidak menyurutkan gairahku dalam menikmati permainan ini. Satu, dua sentilan selalu mempunyai seni tersendiri. Jari-jemari memeragakan bagaimana menembak yang baik. Tidak hanya sebatas itu saja, otak juga dituntut lihai untuk mengatur trik-trik permainan. Terkesan sangat elegan.


Kenikmatan bermain karambol terhenti ketika saya memutuskan untuk merantau menuntut ilmu di sebuah pesantren, di kecamatan sebelah. Rasa kangen tentunya muncul tiap saat, tapi apa lacur, kondisi pesantren tidak memungkinkan untuk saya merasakan nikmatnya bermain karambol (lagi). Karambol bersama-sama permainan lainnya dianggap barang haram—mamnu’ istilah pesantren, karena akan menghambat kegiatan belajar-mengajar di pesantren. Lama-kelamaan kondisi ini sedikit demi sedikit menghilangkan memori saya tentang karambol, bahkan sampai pada titik yang paling ujung, tidak pernah terbesit keinginan lagi untuk memainkan permainan ini.


Sampai pada suatu saat, teman sejawatku mempunyai ide untuk membuat karambol. Kontan ini memunculkan kembali memori kolektifku tentang permainan satu ini, dan serta merta mengusikku untuk kembali menjadi manusia-manusia Asia seutuhnya. Manusia yang suka bermain-main alias homo lodens, dalam artian bahwa kebutuhan akan hiburan dan pesta menjadi pilihan utama (Antony Reid).


Adalah Nasik—nama sebenarnya—yang pertama kali mempunyai ide untuk menghadirkan karambol sebagai alat pembuang rasa jenuh selama menunggu hari-hari penghabisan di pesantren. Nasik dengan jelinya berhasil melihat kebutuhan ini, yang mungkin saja sudah mengendap jenuh di otak kecil kami, manusia-manusia kelas tiga Madrasah Aliyah. Sebagai bocah yang sering memunculkan ide-ide kreatif, tentunya membuat kami menaruh rasa hormat yang berlebih kepada kawan kami ini. Sebuah penghormatan karena telah menghadirkan kepada kami Karambol.


Untuk selanjutnya, hari-hari kami lalui dengan bermain karambol—kadang-kadang sebidak papan monopli juga tidak sungkan-sungkan bersanding dengan benda berukuran kurang-lebih 80X80 cm ini. Orang-orang yang sebelumnya tidak tahu sama-sekali cara bermain karambol pun, pada akhirnya terpesona dan tergiur untuk sekadar mengayunkan tangannya ke dalam papan karambol. Sebuah fenomena yang sangat menggairahkan.


Animo bermain karambol semakin menggebu tatkala kami kelas 3 disentralkan ke dalam satu kamar—untuk beberapa saat kita dipisah menjadi beberapa kamar. Pagi bangun tidur, siang sehabis sekolah, malam sebelum tidur adalah waktu kosong yang harus kita ganti dengan permainan ini. Tidak ada teguran, tidak ada ancaman, bahkan cenderung didiamkan. Kami tidak tahu apakah ada motof di balik ini semua. Apakah menunggu momen baru karambol kami akan dirampas, ataukah memang ini toleransi bagi kami. Sepertinya ini angan-anganku yang terlalu berlebihan, bagaimanapun kami harus selalu waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Dus, kekhawatiran kami terbukti sudah. Karambol satu-satunya kami pada akhirnya mampir juga ke tangan yang berwenang, Ustadz. Kami tidak pernah menyalahkan siapapun akan diambilnya barang kesayangan kami—kala—itu, bahkan sebagian kami malah merasa bersyukur dengan ditangkapnya hidup-hidup karambol itu. “Seandainya karambol itu tidak pernah diamankan oleh Ustadz, mungkin tidak akan pernah ada masa belajar bagi kita sebelum menghadapi ujian final nanti”, celoteh salah satu kawan beberapa saat setelah karambol dirampas.


Pada akhirnya kami Cuma bisa pasrah dengan kejadian ini. Mengutip nasihat kiai bahwa segala sesuatu ada ibrohnya, ada baik dan buruknya. Dan kami mengamini statement itu. Akan tetapi, merasa sangat iba dengan keadaan (mainan) monopoli yang tidak ikut serta diamankan. Dia menemani kami sendirian, tanpa karambol dan biji-bijinya, sampai tamatlah kami sebagai santri pesantren ini.


Tabik!!!


27 Juni 2010 dini hari (menjelang subuh)

Kos Papringan, Depok, Sleman.

Catatan Buat Sebuah Lembaga Pendidikan yang disebut Pesantren

Siang itu, untuk terakhir kalinya saya mengucapkan kata perpisahan di depan ratusan wali murid yang hadir kala itu, yang menyempatkan datang untuk sekadar mendengar penuturan kepala sekolah bahwa anaknya telah lulus dengan predikat begini, begitu dan lain sebagainya dan tentuntya telah diwisuda sebagai lulusan sebuah ponpes di pinggiran kota Lamongan. Para wali itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Kebanyakan petani dan nelayan, namun tidak sedikit pula yang agak beruntung, menjadi pegawai negeri. Intinta kesemuanya larut dalam keharuan. Para anak mendapat pelukan hangat dari bapak dan emaknya. para wisudawan mendapat ucapan selamat dari adik-adik kelas yang sedari tadi, terlihat iri, seakan terbesit dalam hati mereka, “kapan saya menyusul mereka. Selamat jalan kakak, selamat jalan kawan”.


Sebuah kehormatan bagi saya, sebut saja saya Fulan. Kenapa? Karena hari ini—hari perpisahan—saya ditunjuk oleh kepala sekolah sebagai perwakilan kelas tiga untuk mengutarakan sepatah-dua patah kata perpisahan terakhir, sebelum melenggang-kanggkung ke lingkungan yang—menurut kawan-kawanku—lebih berliku dan berkelok. Segala persiapan telah saya atur sedimikain rupa guna menampilkan yang terbaik dalam ucapan perpisahan nanti. Diksi-diksi saya tata serapi mungkin, sesopan mungkin, dan tentunya seelegan mungkin. “Ponpes dan aliyah ini terbukti telah mampu menghasilkan generasi-generasi yang unggul, yang siap terjun ke tengah masyarakat. Maka dari itu, jangan segan-segan untuk sekali lagi menyekolahkan putra-putri bapak dan ibu di pesantren ini”, seruku dengan nada yang cukup lantang. Aplaus dan antusiasme menggema menyergapi aula yang tidak seberapa besar. Rasa bangga dan haru menyatu menjadi satu kesatuan harmonis, campur aduk tidak jelas.


Sayang, keceriaanku agak bercacat. pasalnya tidak satupun dari keluargaku mendampingiku mengarungi momen istimewa ini. Bapak dan ibuku masih begitu ngeyel untuk mengumpulkan uang guna menambah perbendaharaan, sebagai persiapanku masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta nanti. Kakakku, saya tidak mau terlalu egois memaksakan kedatangannya ke sini hanya untuk menunggui adik bandelnya ini. Tidak ada alasan mengganggunya, karena saya tahu kesibukannya diperuntukkan hanya kepada kedua adiknya, dan tentunya untuk emak dan bapaknya. Terkecuali adikku, dia masih setia menemani abangnya, karena secara kebetulan dia satu sekolah denganku.


Sementara kawan-kawanku asik bercandagurau dengan handaitolan, sambil makan dan berbincang, saya lebih memilih untuk menghampiri adik semata wayang saya. Menegurnya. Nampaknya dia juga terlihat sesedih apa yang saya rasakan. Tidak ada keluarga, Cuma kami berdua. Sekotak nasi yang sedari tadi saya tenteng, segera saya kasihkan ke dia, sebagai modal makan siangnya nanti. Semoga itu cukup menghibur perasaannya. Sambil memberi tahu bahwa tanggal sekian saya harus segera ke Yogyakarta untuk regitrasi, saya menitipkan beberapa pesan agar dia rajin belajar, jangan boros lagi, jaga lemari (warisan) dan menyerahkan bebarap buku ajar ke dia. Jujur, saya bukan sosok yang mudah meneteskan air mata, dan kami anggap ini adalah hal yang sangat biasa, karena sedari kecil kami telah terbisa hidup jauh dari orang tua.


Seketika itu pula terbesit dalam benakku, bahwa saya masih mempunyai satu keluarga lagi, yang sudi merawatku selama kurang lebih enam tahun terakhir. Tawa dan tangis sepenuhnya saya curahkan kepadanya, ponpesku beserta santrinya, masjidnya, kiainya, kamar mandinya, dapurnya, kamar-kamar asramanya, hukumannya, keseronokannya dan semuanya. Terpatri dalam hati paling dalam sebuah kalimat “kau adalah keluarga keduaku setelah keluarga asliku”. Itu yang sampai sekarang membuatku berharap untuk segera bersua dan bercanda dengan keseronokannya itu. Ah, ponpesku. Bagaimana kabarmu sekarang? Tak terasa kau sudah mau beranjak 24 tahun.

Tabik!!!!


(jujur aku menitikkan air mata dalam tulisan yang jauh dari sempurna ini)

Kos papringan, 10 juli 2010, pukul 11.30 WIB


Jumat, 18 Juni 2010

JANGAN NYROBOT………………………


(dilema santri dalam kungkungan suci pesantren)


Begitulah kira-kira penegasan yang dilontarkan tiap-tiap bagian keamanan ketika awal menjelang kepengurusan dalam sebuah pondok pesantren. Sebuah statement yang mengindikasikan bahwa budaya nyrobot telah merasuk ke hati sanubari para penghuni pondok—dalam hal ini adalah santri. Siapa pun, baik itu yang alimnya minta ampun sampai yang tipa harinya kelakukannya blingsatan, saya yakin pernah merasakan pengalaman ini. Mengendap-endap keluar pondok agar tidak ketahuan pengurus ataupun ustadz jaga, untuk sekadar dapat keluar dan menghirup angin bebas di luar pesantren. Meskipun tujuan tidak tentu arahnya, hal semacam menjadi pilihan karena, mungkin jenuh dengan situasi pondok, atau mungkin memang sudah menjadi rutinitas yang kudu segera di salurkan. Entah, kalian semua bisa menjawabnya.

Hakikat pesantren, selain sebagai wadah untuk menggembleng santi agar mendapatkan pengetahuan yang mumpuni dalam ranah agama, juga menjadi alat kontrol etika dan estetika santri agar menjadi pribadi yang “alim”, santun, penyabar, dan tidak mudah lepas kontrol. Salah satunya juga menjaga santri agar menjadi pribadi yang disiplin, salah satunya adalah meminta ijin tatkala mempunyai keinginan untuk keluar dari pesantren. Semisal pulang, bepergian, belanja keperluan dan lain sebagainya.


Budaya nyrobot selalu ada tiap tahunnya selama saya menjadi santri di salah satu pesantren populer di pinggiran Lamongan. Banyak alasan yang melatarbelakangi aktifitas ini, seperti apa yang telah saya sebutkan diatas, mungkin si santri kurang nyaman dengan kondisi lingkungan sekitar pesantren, atau memang si santri merasa tidak krasan mondok. Alasan terakhir, menurut pengamatan saya menjadi alasan paling populer masyarakat pesantren untuk menjadi landasan kenapa dia harus keluar pondok tanpa ijin.

***

Siang itu, sinar matahari begitu terik. Debu-debu beterbangan entah ke mana. Tanggalan pesantren menunjukkan tepat pada pertengahan bulan Juni. Bulan yang merupakan masa-masa menghadapi ujian di pesantren. Waktu itu saya hampir menyelesaikan studi saya di kelas dua sebauh SMP swasta yang berada satu komplek dengan pesantren yang saya diami. Berbarengan itu, sebuah perhelatan akbar empat tahunan sedang digelar. Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Tidak hanya di Korea dan Jepang, tapi gemuruh Piala Dunia juga menggema di antero dunia lain, tak terkecuali warga pesantren.


Menjadi begitu delematik ketika harus memilih dan memilah, Piala Dunia atau Ujian akhiru sanah? Yang pertama, ini adalah even akbar empat tahun sekali. Yang kedua, ini adalah ujian yang menentukan kemampuan kita setahun kebelakang, dan menentukan pula posisi kita setahun ke depan. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak saya untuk tinggal kelas dan sebangku dengan orang-orang baru—yang notabene adalah adik kelas. Oleh sebab itu, apapun resikonya saya memilih untuk keduanya, menyisakan waktu belajar untuk nonton bola dan menyisakan sedikit kesenangan untuk sekadar membaca buku ajar.


Piala Dunia sudah menginjak ke babab perdelapan besar, alias enambelas besar. Salah satu partai mempertemukan Jerman—yang nantinya menjadi Runner Up—melawan Paraguai—sebuah kekuatan lawas sepakbola Amerika Latin. Karena tidak ingin ketinggalam momen, maka saya dan kawan-kawan memutuskan untuk keluar pesantren melihat pertandingan ini. Alasan lain adalah, karena ujian telah habis dan tinggal menunggu pengumuman saja. Beribu alasa kami pikir untuk minta ijin, namun kemungkinan besar mustahil mendapat ijin untuk “melihat” sepak bola. Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya kami menemukan ide. Tempo hari kami mendapat intruksi untuk mengumpulkan buku raport kepada wali kelas langsun ke rumahnya. Nah, alasan inilah yang kami jadikan senjata ampuh untuk keluar pesantren. Alhasil, kami diberi ijin meninggalkan pesantren, tentunya untuk menyerahkan raport.

Dus, setan mana yang tega-teganya merasuki kami untuk menempuh jalur salah, kami memanfaatkan momen ini untuk mampir ke salah satu teman saya dan menyepatkan diri menikmati tayangan bola di salah satu stasiun TV swasta. Sekitar 10 orang berada di rumah itu, termasuk saya.


Sebuah drama dimulai. Dari balik pintu tiba-tiba muncul sesosok yang sangat familiar bagi kami. Pengurus Pondok. “mati iki rek”, kataku dalam hati. Sekita itu, tiba-tiba muncul ide jahil. Kami semua sepakat untuk memejamkan mata dan berpura-pura tidur sambil terus mengamati keadaan sekitar. Terlihat si pengurust tadi—yang kebetulan masih famili teman yang saya kunjungi rumahnya—berkomat-kamir merapalkan sebuah hitungan. “satu, dua, tiga………………………….”, kami mendengar dia menghitung jumlah kami. Diam-diam—tapi tetap dalam pengawasan kami—si pengurus tadi pergi. Dan kami, terlihat masa bodoh dan meneruskan sisa pertandingan.


Klimaksnya, kami bersepuluh dipanggil dalam acara hukuman massal pesantren. Akibatnya adalah kami disuruh membersihkan sepuluh asrama sehari sebelum hari libur tiba.


Bagi saya, Ini adalah pengalaman pertama saya nyrobot dari pesantren. Setelah itu, beberapa kali saya nekad keluar pondok, tentunya tanpa ijin. Sering lolos, tapi beberapa kali kepergok pengurus dan ustad. Terakhir, saya berharap budaya ini tidak lagi terulangi, karena ini berhubungan dengan pencitraan sebuah lembaga pendidikan di mata masyarakat. Tapi patut diingat, bahwa dulu berbeda dengan sekarang. Budaya sandiwara radio berbeda dengan budaya Doraemon dan Power Rangers. Jadi harus ada perlakuan yang beda pula.


Tabik!!!


10.30 WIB (masih dalam suasana Piala Dunia 2010)

Kos Papringan, 18 Juni 2010