KONSEP NEGARA DALAM BATHOK KEPALA SOEKARNO-HATTA
Oleh. Moh. Habib Asyhad (06407141003)
Siapa yang tidak mengenal sosok soekarno dan hatta. Dua orang tokoh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak awal mereka berdua adalah dua dari beberapa pelajar Indonesia yang mencoba mewujudkan cita-cita bangsa untuk merdeka dari cengkraman pemerintah colonial.
Namun jangan kira bahwa kedua tokoh proklamator tersebut selalu berjalan searah dan bersamaan. Keduanya adalah dua sosok idealis yang selalu berseberangan jalan. Terutama dalam pandangan tatanan ketatanegaraan bangsa Indonesia.
Dilihat dari sudut pandang latar belakang pendidikan mereka sudah sangat jauh berbeda. Soekarno adalah asli produk dalam negeri. Dia hanya lulusan insinyur di sekolah tinggi teknik di bandung,sedangkan hatta adalah satu diantara banyak pemdua Indonesia yang dapat merasakan model pendidikan ala barat. Sehingga dapat dilihat dari pola pikir mereka pasti sangat jauh berbeda. Soekarno adalah sosok yang sangat benci dengan barat, ada yang mengatakan karena dia sempat ditolak karena berupaya melamar putri seorang belanda. Tetapi hatta berdeda, dia banyak menyerap pelajaran-pelajaran yang didapat ketika menempuh pendidikan di belanda.hfghfdh
Dari pertama dia menginjakan kaki di Belanda dia telah disuguhi oleh pemikiran liberal gaya barat. Dari situ lah kemudian dia beranggapan bahwa model pemerintahan ala barat cocok untuk diterapkan di Indonesia.
***
Sifat keras soekarno terhadap banyak dilihatkan di pledoi pembelaannya katika diadaili di penjara Soekamiskin, yang kemudian sering dikenal dengan ”Indonesia menggugat”. Dalam pledoi pembelaannya itu dia banyak sekali mengutuk keburukan kolonialisme dan imperialisme. Menurutnnya imperialisme bukanlah pemerintahan melainkan sebuah nafsu kebejatan yang harus dihilangkan. Rakyat telah diperlakukan dengan kejam dan sadis, mereka tidak diberi kebebasan dan kemerdekaan. Mereka selalu mendapat perlakukan yang tidak manusiawi dan layak sebagai manusia yang seutuhnya ( lihat pledoi soekarno Indonesia Menggugat).
Hal itu tidak sebanding dengan apa yang diperoleh oleh penjajah di negeri jajahannya. Belanda telah mengeruk banyak sekali kekayaan yang dimiliki oleh Hindia Belanda, Indonesia. Pledoi ini tidak hanya ditujukan hanya kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda saja, melainkan seluruh negeri penjajah yang ada dimuka bumi ini.
Tiga ratus tahun Indonesia (beberapa versi mengatakan seperti itu), mulai kedatangan VOC sampai akhir pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Dan hanya ada satu kata untuk bangsa Indonesia, yaitu Indonesia Merdeka.
Maka dari itu dalam mengkonsep negara Soekarno tidak seakan-akan tidak mau untuk banyak berkiblat pada sistem pemerintahan Belanda. Dia lebih condong ke bentuk pemerintahan presidensil dan terpusat. Seluruh pusat kekuasaan ada pada tangan presiden. Satu hal yang menjadi landasan Soekarno, yaitu persatuan dan kesatuan bangsa.
Berdeda dengan Soekarno. Hatta beranggapan bahwa sistem parlementer lebih cocok diterapkan dio Indonesia. Hatta adalah sosok yang sangat gandrung dengan model kebijakan ala barat yang banyak dia dapat ketika dia belajar di negeri Belanda.
Dengan parlementer dia berharap seluruh suara rakyat Indonesia dapat tertampung dalam parlemen. Sebab masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majmuk yang terdiri dari banyak suku dan bangsa. Dengan banyak perdebedaan tersebut Hatta berharap seluruh suara rakyat dapat tertampung dan teraspirasikan.
Soekarno-Hatta sering beradu argumen tentang konsep negara yang mereka tawarkan masing-masing. Namun yang menjadi masalah adalah keduanya jarang sekali, bahkan tidak pernah bertatap muka langsung untuk mendiskusikan mengenai konsep negara yang mereka rumuskan. Meraka lebih sering menyampaikan lewat media massa yang beredar waktu itu.
Namun demikian, perbedaan tersebut tidak serta merta menghilangkan rasa simpati keduanya satu sama lain. Hal ini tercermin ketika kedunya diadili oleh Belanda. Soekara sering mengirimkan pembelaannya ketika Hatta diadili di negeri Belanda, begitu pun sebaliknya. Hatta sering mengirimkan pembelaannya ketika Soekarno diadili di penjara Soekamiskin.
***
Pada akhirnya perseteruan mereka tidak berlanjut ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekannya. Ada yang mengatakan karena Hatta lebih bersifat melunak ketimbang Soekarno. Hatta tidak ingin perbedaan antara mereka menjadi pemecah persatuan bangsa Indonesia yang baru saja merdeka. Namun pada akhirnya pun borok keduanya tetap terlihat. Hatta berhasil membawa Indonesia masuk ke sistem parlementer, namun tidak berjalan lama dan efisien. Akhirnya Hatta pun disingkirkan Soekarno dari pemerintahannya.
Sebelum Soekarno menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir Hatta sempat menjenguknya dan berada di sisinya untuk beberapa saat. Tetapi pada akhirnya indonesia masih berpegang teguh pada prinsip yang telah diwariskan oleh Soekarno, karena dianggap paling cocok dengan kriteria manusia Indonesia yang ”Sendiko Dawuh Gusti”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar