
Judul Buku : Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Sejarah Etnis Cina di Indonesia
Penulis : Onghokham
Penerbit : Komunitas Bambu, Jakarta
Tebal halaman: 204 halaman
Berbicara sejarah Indonesia, Cina adalah warna tersendiri yang ada. Banyak sekali kajian yang dapat kita peroleh ikhwal eksistensi keturunan Cina di Indonesia. Pada masanya Cina pernah menempati posisi yang strategis dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Pemerintah colonial Belanda pernah mengklasifikan kelas-kelas masyarakan pribumi kala itu, dan Cina, bersama Arab dan negara Timur Jauh lainnya menempati urutan kedua di bawah Belanda dan Eropa.
Tidak dapat dipungkiri bagaimana semangat dagang Cina yang ada selama ini. Cina menempati sector-sektor yang sangat strategis dalam arus perekonomian Indonesia, baik itu pada masa colonial ataupun masa sekarang. Itulah yang menyebabkan Cina terus bertahan di tengah arus kolonialisasi yang semakin hari semakin menggila kala itu. Cina seakan-akan tidak ambil pusing dengan keadaan nusantara kala itu. Yang terpenting adalah bagaimana mereka masih terus bisa bergerak dalam bidang yang selama ini menjadi ranah mereka. Perdagangan.
Namun demikian, tidak sedikit pula keturunan Cina yang juga bergerak dalam dinamika pergerakan nasional. Seperti Lie Eng Hok, Karim Oe, Kwee hing tjiat, dan lain sebagaimnya. Mereka secara sadar telah bersama-sama memerjuangkan kemerdekaan bangsa dari cengkraman penjajah.
Di sisi lain, kita akan disuguhkan dengan kenyataan yang cukup memilukan ikhwal pembantaian-pembantaian yang ditujukan kepada keturunan-keturuan Cina. Akhir abad 19 kita mungkin masih ingat dengan pembantaian besar-besaran Cina di Batavia oleh VOC. Ribuan nyawa tidak bersalah melayang begitu saja. Klimaksnya adalah ketika meletusnya pemberontakan Tigapuluh September. Versi resmi pemerintah sampai sekarang masih yakin mengatakan bahwa dalang di balik peristiwa ini adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Dampaknya adalah apapun yang berafiliasi dengan komunis maka akan dihanguskan dan dibersihkan. Begitu pula dengan etnis-etnis Cina.
Selain peristiwa kisaran tahun 65 itu, pembantaian besar-besaran terhadap etnis Cina adalah ketika terjadinya reformasi tahun 1998. Penjarahan terhadap took-toko Cina terjadi di mana-mana. Selain penjarahan, adalah pemerkosaan menjadi headline beberapa suratkabar local maupun nasional. Sungguh sangat ironis. Begitulah dinamika Cina di Nusantara. Sangat berkelok dan penuh dengan liku. Terkadang mereka berada diatas roda perputaran, terkadang berada di bawah.
Dalam buku “Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Sejarah Etnis Cina di Indonesia” karangan Onghokham ini akan memaparkan dinamika-dinamina tersebut. Buku ini sangat luga membahas tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh orang-orang keturunan (Cina). Mulai dari sejarah awal eksistensi Cina di Nusantara sampai tuntas membahas agama-agama yang dianut oleh orang-porang Cina di Indonesia. Namun, yang menjadi sorotan utama buku ini adalah munculnya sinisme terhadap eksistensi Cina di Nusantara dari pelbagai perspektif.
Dalam buku ini, Ong (sapaan akrab Onghokham) menjelaskan bahwa akar gerakan anti Cina berakar pada masa colonial Belanda. Belanda membagi membagi masyarakat ke dalam tiga golongan rasial; Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Cina berada dalam golongan kedua. Sampai kisaran tahun 1910 setiap golongan ditempatkan dalam tempat-tempat yang khusus (ex. Kampung Cina, kampus Arab, kampong India, dst). Pembatasan ini bagi golongan timur asing seperti Cina dipertegas dengan keharusan memiliki pas jalan bagi perjalan dari kampong Cina satu ke Cina yang lain. System inipun tidak berbeda jauh dengan kebijakan apartheid di Afrika Selatan.
Dalam sudut pandang pribumi, muncul mitos yang mengatakan bahwa golongan Cina selalu mendapat perlakuan yang istimewa dari pemerintah Belanda. Namun, beberapa peneliti mengatakan bahwa pemerintah Belanda memiliki sentiment anti Cina yang cukup besar, dan sentiment ini memuncak pada kisaran 1900. Hal ini dikarenakan Cina menempati posisi pedangan perantara Eropa dengan Pribumi dan mendominasi setiap perdagangan di tiap-tiap kota di Jawa.
Politik colonial anti Cina ini menyebabkan timbulnya gerakan emansipasi Cina-jawa. Mereka mununtut persamaan hak dengan orang-orang Eropa. Gerakan ini adalah yang pertama dari masyarakat Hindia Belanda yang bergerak menghadapinya. Gerakan ini berhasil menghapuskan semua pembatasan terhadap mobilitas fisik etnis Cina.
Akar-akar Sentimen terhadap Cina
Ketika kita bertanya siapakah actor intelektual munculnya benih-benih sintemen terhadap keturunan Cina, maka jawaban yang akan muncul adalah pemerintah colonial Belanda. Meskipun tidak secara tersurat pemunculan itu, namun ketika kita menilik lebih jauh beberapa kebijakan Belanda, maka ada semacam konspirasi untuk menyingkirkan keberadaan Cina di Nusantara.
Pada awalnya, Cina adalah mitra dagang bagi orang Belanda, tepatnya ketika masa VOC. Namun, bukan berarti hubungan mereka berjalan dengan mulus. Banyak krikil-krikil tajam yang mewarnai hubungan kedua negara (dagang) ini. Puncaknya adalah pembunuhan besar-besaran penduduk Cina oleh bangsa masyarakat Beland di Batavia tahun 1740.
Paska kerusuhan 1740, Belanda membentuk kelas-kelas dalam masyarakat Indonesia (Hindia Timur). Belanda dan Eropa menempati kelas pertama. Bangsa timur asing, termasuk Cina menempati kelas kedua, dan tempat ketiga ada penduduk pribumi, yaitu penduduk asli Indonesia. Ada beberapa aspek yang bisa kita lihat dengan fenomen pembagian kelas tersebut. Pertama, dengan diperlakukannya kebijakan tersebut, berlaku pula system pelokalisasian terhadap satu etnik. Semisal etnik Cina dikonsentrasikan di pemukiman Cina, etnik Arab di pemukiman Aran, Etnik India di pemukiman India, dan seterusnya. Dengan diperlakukannta system itu, maka kelompok-kelompok yang tersekat itu akan mempunyai ruang gerak yang sangat sempit dan cenderung bersifat stagnant. Sentiment Belanda terhadap Cina nampak dalam permasalahan ini, dengan membatasi seluruh gerak-gerik orang-orang Cina.
Kedua. Dengan menaruh orang-orang pendatang dari Cina satu tingkat diatas penduduk asli pribumi, menjadikan ada kecemburuan social orang-orang pribumi terhadap orang-orang Cina. Sampai kemudian muncul mitos yang mengatakan bahwa orang-orang Cina mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari Belanda. Padahal, seperti yang telah disinggung tadi, bahwa Belanda memeliki sentiment terhadap Cina begitu tinggi.
Sentimen anti Cina yang kuat hidup dalam pemerintahan colonial Belanda terutama terlihat dalam kebijakan politik etis (1900) yang ditujukan untuk menaikan perhatian masyarakat pribumi. Pejabat Belanda merasa bahwa mereka harus melindungi masyarakat pribumi dari kelicikan orang-orang Cina. Adanya peraturan ini dan diperlakukan diskriminasi lainnya bukan berarti bahwa orang Cina tidak berkembang di bawah system politik etis colonial Belanda.
Kerusuhan pertama anti Cina adalah huru-hara Kudus tahun 1918, dimana Kudus mempunyai golongan-golongan kelas menengah dari kalangan pribumi Jawa dan Muslim Jawa. Pada awalnya, kerusuhan ini disinyalir akibat prosesi klenteng oleh penduduk Cina yang menyakiti masyarakat muslim setempat. Namun, setelah ditelisk lebih lanjut, ternyata kerusuhan ini disebabkan oleh latar belakang persaingan dagang kelas menengah. Persaingan ini muncul akibat kebijakan Belanda yang menghapus system pembatasan mobilitas kepada orang-orang Cina, dan membiarkan mereka membaur dengan penduduk pribumi dalam perdagangan.
Saya kira buku sangat cocok untuk pembaca pemula ikhwal eksistensi Cina di nusantara. Memang sudah sangat banyak sekali buku-buku sejenis yang membahas tentang bagaimana Cina menjalani kelangsungan hidupnya di negara yang seratus persen berbeda dengan kultur pribadinya. Buku ini menjelaskan secara runut bagaimana pola interaksi Cina, baik itu dengan pemerintah kala itu (Belanda) ataupun dengan penduduk pribumi local. Dengan media perdagangan, Cina mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu kekuatan dan warna baru sejarah Indonesia. Akibatnya, kita tidak begitu saja men-judge bahwa Cina adalah jelek.
Namun demikian, saya kira masih ada beberapa kekurangan yang harus menjadi bahan koreksi, baik itu untuk penerbit maupun penulis itu sendiri. Mungin salah satunya adalahm, dikarenakan Ong adalah seorang keturunan Cina, maka ditakutkan tulisannya ini agak berbau ke-Cina-cinaan. Sehingga terkesan sangat subjektiv. Akan tetapi, sejarawan sekaliber Ong tidak diragukan lagi eksistensinya dan karya-karyanya. Ong terkenal dengan beberapa tulisannya tentang sejarah Indonesia abab 19. Selain itu, Ong sangat gemar menulis sejarah-sejarah yang sangat ringan. Pernah dia menulis tentang Mie, pakaian, mitos dan banyak lagi yang lainnya. Tabik!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar