Kamis, 08 April 2010

PENDIDIKAN PESANTREN, PENDIDIKAN ALTERNATIF


Ketika pertama kali mendengar kata pondok pesantren, pasti yang pertama muncul di benak kita adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdapat peraturan yang sangat ketat akan penanaman ajaran-ajaran keagamaan, dalam hal ini adalah Islam sebagai asas pesantren itu sendiri. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah, karena pada dasarnya, pesantren memang di desain untuk menciptakan kader-kader yang mumpuni dalam urusan keagamaan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pesantren, terutama pesantren modern yang saat ini banyak berkembang, telah memberi solusi baru terhadap dekadensi pendidikan Indonesia di era globalisasi ini yang semakin hari semakin terperposotkan.

Mengutip dari salah satu ayat al-quran yang berbunyi “ maka Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mencari ilmu dengan beberapa kali derajat”. Kutipan itu sudah cukup kuat menganjurkan kita terhadap pentingnya menuntut ilmu, pentingnya pendidikan terhadap kemajuan suatu bangsa. Pendidikan adalah ujung tombak peradaban bangsa. Kita mampu membayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa ketika telah terjadi degradasi moral dan spiritual ketika di karenakan kebutuhan ilmu pengetahuan yang tidak terpenuhi.

Karna urgen-nya ilmu pengetahuan, sampai-sampai Rasululloh dalam sebuah hadisnya menganjurkan, bahkan mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Dan dalah salah satu hadisnya pula, beliau menganjurkan umatnya untuk mengejar ilmu itu sampai ke negeri Cina. Cina dalah hal ini adalah representasi betapa pentingnya sebuah ilmu pengetahuan, meskipun itu berada di tempat yang sangat jauh. Masih mengutip dari salah satu pepatah arab, “tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat”. Kutipan ini menjelaskan rentan menuntut ilmu tidak terdefiniskan, kapan kita haru memulai menuntut ilmu dan kapan kita harus mengakhirinya. Menuntut ilmu adalah tuntutan kehidupan yang harus kita emban ketika kita terlahir ke dunia, dan akan berakhir ketika kita benar-benar tdiak lagi bernafas.

Namun sangat ironis, ketika menyandingkan pernyataan di atas dengan keadaan pendidikan ni negeri tercinta ini. Indonesia ternyata belum mampu menjadi advokator yang baik untuk pendidikannya. Terlalu banyak cacat yang harus segera dibenahi dan di renovasi. Karena saking banyaknya cacat yang mendera, sampai-sampai pelbagai macam model pendidikan dan kebijakan belum mampu mengentaskan pendidikan kita ke arah yang lebih baik dan maju. Pendidikan Indonesia yagn telah dibangun semenjak era pergerakan itu semkain hari semakin menyedihkan. Permasalahan muncul mulai biaya pendidikan yang melambung tinggi, korat-karitnya aturan UN alias ujian nasional, gonta-gantinya model kurikulum semakin menenggelamkan ke jurang kenistaan. Saya dan beberapa kawan pernah membayangkan, seandainya tokoh-tokoh pendidikan kita dulu bisa hidup kembali, seperti apa kesedihan dan penyesalan mereka. Tentunya mereka akan menangis sejadi-jadinya. Ahmad Dahlan akan mengutuki kadernya satu persatu, Ki Hajar Dewantara akan misuh-misuh terhadap para pamong-nya, dan Raden Ajeng Kartini tentunya akan cuap-cuap tidak jelas karena melihat perempuan tidak mempunyai andil apapun terhadap perkembangan pendidikan. Memang itu Cuma bayangan kami, namun tidak mungkin bayangan itu muncul kalau tidak disebabkan oleh buruknya mutu pendidikan Indonesia.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan besar kita saat ini adalah, sismtem pendidikan yang seperti apa yang benar-benar cocok dengan karakter dan watak orang indonesia. Kita membutuhkan sistem baru yang mampu menampung segala keluh dan kesah masyarakat indonesai, tentunta pendidikan itu yang pro terhadapa rakyat, yang mampu dijangkau oleh rakyat, terutama dalam ha ekonomi dan tentunya tidak neko-neko. Berbicara tentang neko-neko, semakin hari kita semakin senewen dengan pola kebijakan pendidikan kita. Ada yang menginginkan agar bertarap internasional, padahal secara sarana dan prasana belum cukup mampu untuk menuju kesana. Ada yang beraangan menjadi sekolah percontohan se-Indonesia, padahal masih banyak elemen sekolahnya yang belum cocok untuk menjadi suri dan contoh. Pendidikan kita serba sulit. Kalau merujuk ke kata pepatah, “Hidup Enggan, Mati Tidak Mau”, kembang kempis seperti halnya balon udara.

Pendidikan Pesantren, Pendidikan Alternatif

Menurut Bryan bahwa pendidikan pesantren adalah sebuah ladang dan lahan subur yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk menjadikan manusia itu mempunyai kepribadian yang baik, sekaligus mengembalikan islam ke esensi awal, yaitu islam sebagai agama adalah berfungsi sebagai perekat sosial yang terkesan terlalu antagonistik atau bahkan sebagai candu sosial yang akan menekan konfik antar masyarakat. Agama, secara umum, dapat dikatakan berfungsi mempertahankan kohesi sosial secara fugnsional agama konstitusi kontrol sosial paling utama dalam interaksi sosial itu sendiri (Bryan, 2006). Jadi sangat jelas disini, bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang (juga) dalam visi dan misinya berupaya menciptakan kader-kader yang unggulan, yang peka terhadap realita sosial yang selalu berdinamikan hari demi hari.

Sejalan dengan visi dan misinya juga, pesantren berusaha dan selalu menjadi corong pendidikan indonesia dalam kontek kekinian. Tidak mungkin dipungkiri, pondok pesantren mempunyai sumbangsih yang tidak sedikit kepada pendidikan ini. Tidak usah muluk-muluk kita menghadirkan sebuah contoh, penulis adalah seorang yang pernah beberapa tahun mengecap bangku pondok pesantren. Memang kesannya cukup subjektif, tapi paling tidak itu adalah representasi dari pentingnya pesantren bagi kelangsungan pendidikan Indonesia.

Pendidikan pesantren sebagai alternatif berarti pendidikan dengan corak dan pola agamis adalah sebuah opsi terbaru, dimana pendidikan Indonesia berada dalam titik yang paling memprihatinkan. Sebagai pendidikan alternatif, tentunya pesantren tidak setengah-setengah dalam menjalankan roda pendidikannya. Dalam kontek kekinian, kurikulum pesantren semakin hari semakin berkembang, mengikuti arus dinamikian masyarakat. Sebagai bukti adalah mulai hilangnya stigma yang mengatakan pelajar pondok adalah pelajar yag kuper alias kurang pergaulan dan cenderung gagap teknologi. Pondok pesantren, terutama pondok modern, telah mempunyai syarat yang cukup untuk sekadar dikatakan sebagai representasi pendidikan modern, seperti halnya sekolah-sekolah pada umumnya.

Menjadi pendidikan alternatif tentunta mempunyai konsekuensi tersendiri yang harus mampu ditanggung oleh pesantren itu. Ada beberapa hal yang kudu digarap, meskipun harus menggadaikan idealisme pesantren, dalam hal ini adalah idiologi agama, yaitu reorientasi pesantren. Hal ini sesuai dengan misi Islam tranformatif yang mencoba menjadikan islam lebih akomodatif dan fleksibel sehingga masyarakat mampu menerimanya dengan tangan yang benar-benar terbuka. Akan tetapi, ada satu hal yang harus diperhatikan, terutama dengan pandangan pesantren-pesantren konservatif yang cenderung menjaga tradisi pesantren-pesantren tradisional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar