
Cerita ini berasal dari negeri nun jauh disana. Suriname nama negeri itu. Sebuah negeri yang mungkin kita hanya akan mendengar namanya saja. Konon negeri ini mempunyai sebuah angan untuk bisa menginjakkan kaki mereka di tanah yang selama ini mereka anggap suci. Sebuah tanah yang sedari kecil mereka idamkan untuk dapat sekadar melepaskan kerinduan yang terpendam selama ratusan tahun. Seperti halnya bangsa yahudi yang berasumsi bahwa Yerusalem adalah tanah yang dijanjikan tuhan kepada mereka, dan mereka menganggap bahwa tanah ini kemudian disucikan. Orang-orang dari negeri sebrang ini mungkin juga mempunyai angan yang sama dengan angan para Yahudi itu. Ternyata tanah itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jawa, Indonesia, Negeri kita.
Perkenalan awal saya dengan negeri yang dinamakan Suriname ini terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Adalah Pae, saya memanggil bapak saya seperti itu, orang yang pertama kali mengenalkan saya dengan tokoh Habil dan Qobil putra Adam, orang yang pertama mengenalkan saya dengan Malin Kundang, Lutung Kasarung, Si Kancil binatang cerdik nan bangsat, dan tokoh-tokoh lain, suatu hari mengatakan bahwa ternyata bahasa Jawa tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di sebuah negeri antah berantah bahasa jawa juga terlestari. Dan saya masih sangat ingat sekali pae menyebut nama Suriname, sebuah negeri yang berada di dekat degnan Argentina (mungkin karena sama-sama Amerika). “koyok wong Suriname ae, ngarani telulikor ae rongpulohtelu” ,kira-kira seperti itulah dialog kita waktu itu.
Sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa memang terdapat komunitas orang-orang Jawa yang sampai sekarang masih eksis di Suriname. Dari sekitar 500 ribu penduduk Suriname, 75 ribu diantaranya adalah keturunan Jawa. Mereka bersanding dengan para penduduk yang juga pendatang seperti Cina, India, dan Afrika. Keberadaan jawa di suriname berawal ketika indonesia berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda, kira-kira 120 tahun yang lalu. Gelombang pengiriman orang jawa oleh belanda berlangsung cukup lama, yaitu antara tahun 1890 sampai 1930. Jadi dapat dibayangkan berada jumlah tenaga jawa yang waktu dipaksa untuk menjadi bduak di negeri yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar. Menurut catatan resmi, terdapat 31 ribu budak Jawa yang waktu di bawa oleh belanda untuk menjadi kuli di Suriname. Pengiriman ini sendiri ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga perkebunan tebu yang tersebar di beberapa daerah di Suriname.
Fakta lain yang mungkin dapat kita catat adalah, ternyata telah terjadi semacam praktik human traficking dalam pengiriman-pengiriman itu. Pemerintah belanda menggunakan tenaga calo untuk merekrut orang-orang ini. Selain itu, ada juga yang menggunakan cara-cara keji, misal menggunakan gendam. Pengakuan seoang cucu Eks budak Suriname menyebutkan bahwa kakeknya dulu mendapat gendam. Ketika itu si kakek sedang mengambil rumput. Tapi tiba-tiba dia tertidur, dan ketika dia terbangun ternyata dia sudah berada di atas geladak kapal yang menuju Suriname (Kompas, 14 April 2010).
Yang patut kita banggakan sekarang adalah, ternyata penduduk suriname keturunan jawa sampai saat ini masih memegang teguh adat istiadat jawa. Mereka masih mengenal wayang dan ndalang. Bahkan mereka juga masih mempunyai pemimpin adat yang mereka sebut Sapto, yang mana sapto ini minimal harus bisa ndalang, atau memainkan wayang. mungkin inilah salah satu penyebab kenapa mereka sangat rindu dengan tanah leluhur mereka, yang hanya mereka dengan dari buyu-buyut mereka saja. Tidak muluk-muluk, minimal mereka dapat melihat tanah yang mereka anggap suci ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar