beberapa saat setelah khotib resmi menutup khotbahnya, dan menandakan solat idul adha secara resmi selesaia, saya dan beberapa teman langsung lari menuju arah masjid--yang sering kami sebut dengan sebuat Mejid Kulon. Hanya satu hal yang menjadi tujuan kami kala itu, yaitu mengetahui seberapa banyak hewan kurban yang telah tersedia di halaman masjid. Tidak hanya sebatas itu, kami juga mencari informasi di masjdi sebelah--untuk yang ini kami sering namai dengan sebutan Mejid Etan, sudah berapa banyak hewan kurban yang menggelayut di pagar-pagar seputaran masji. Hal ini kami lakukan hampir setiap tahun.
sebelum lebih jauh bercerita, saya akan menjelaskan kenapa kami memberi istilah dua masjid yang saling bersebelahan itu dengan istilah-istilah aneh seperti itu. Di desa kami--desa yang relatif sangat kecil luas wilayah administratfinya--terdapat dua golongan besar--sebenarnya bukan sama besar, tapi jomplang--yang masing-masing mencoba melancarkan dominasi mereka. Salah satunya adalah dengan media masjid. Meskipun desa kami kacil, namun tidak demikian dengan masjid-masjid di desa kami. Kalau pembaca pernah berkunjung di kampus Universitas Negeri Yogyakarta, dan pernah melihat ukuran masjid di dalamnya, maka seperti itulah kira-kira besarnya masing-masing masjid di desa kami.
Terdapat dua masjid, dan puluhan mushola, kesemuanya tersebar di pelbagai sudut desa kami. Terutama masjid, keduanya saling bersaing pengaruh dan kharisma. Bahkan persaiangan bentuk bangunan juga tidak terelakkan. Ketika mejid kulon menambah jumlah bangunan,maka mejid etan sebisa mungkin akan mengikutinya. Pun sebaliknya, jika mejid etan menambah bangunan atau hiasan pada masjidnya, maka mejid kulon sudah barang tentu akan menyaingi keindahan masjid saingannya itu.
Dua masjid itu punya dua golongan besar yang sudah saya jelaskan pada paragraf-paragraf awal tadi. Dan bahkan untuk selanjutnya kedua masjid itu menjadi sebuah simbol penamaan bagi para pengikut fanatiknya. semisal, "ah sampean wong mejid etan", atau " la sampean wong mejid kulon lapo dolan ne kene (mejid etan).
Pada awalnya penamaan kedua masjid itu karena letak masjid-masjid itu. Mejid kulon, karena berada di barat jalan, dan mejid etan, karena berada di sebelah timur jalan utama desa saya. Meskipun demikian, kedua masjid itu terletak tidak saling berjauhan. Kira-kira jarak antar kedua masjid itu adalah 40 meter-an. Meskipun demikian, secara idiologis jaraknya bisa berkisar ratusan kilo meter.
Kembali ke hewan kurban. masjid saya--Mejid Kulon--seperti tahun-tahun sebelumnya paling banyak hanya ada sekitar 9 kambing. Sapi, mungkin sepuluh tahun sekali. Bahkan, sejauh pengetahuan saya, pernaj suatu ketika hewan kurban di depan masjid cuma ada tiga ekor saja. Sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan perolehan hewan kurban di mejid etan, lebih dari duapuluh ekor itu jelas. Dan satu lagi, selalu ada Sapi di setiap kurbannya. Itu menjadi bahan paling manjur untuk mengolok-ngolok kami, para simpatisan mejid kulon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar