Rabu, 17 November 2010

MERAPI DAN KEMANUSIAAN part 2

Setelah seharian libur mengadbi atas nama kemanusiaan, sabtu malam Irul—salah seorang teman saya—mempunyai rencana untuk memberi bantuan kepada salah seorang teman satu kelasnya di kampus. Awalnya rencana ini hanya ditujukan kepada teman-teman satu angkatan dan satu kelasnya saja, namun karena berbagai alasan maka dia akhirnya memutuskan untuk mengajak kawan yang lain dalam kegiatan ini. Yang bisa menyempatkan waktu bisa langsung ikut menengok keadaan temannya tadi di barak pengungsian Lapangan Tembak Magelang, yang tidak bisa datang cukup melekatkan beberapa lembar rupiah dan tentunya tidak lupa doa. Salah satu teman yang diajak waktu itu adalah saya.

Minggu, 7 November 2010, tiga hari menjelang hari Pahlawan, tiga hari sebelum kedatangan Obama (kalau jadi datang), 12 hari setelag letusan pertama Merapi dan 2 hari setelah letusan terbesar Merapi sepanjang lebih dari satu abab, saya dan tiga teman memutuskan untuk pergi ke Salaman. Ke subuah barak pengunsian yang dilokasikan persis di lapangan tembak magelang.

Seperti halnya tempat-tempat pengungsian yang lain,barak lapangan tembak juga kelihatan ricuh dan ramai. Namn, barak ini nampak berbeda karena hampir sebagian besar relawannya adalah berasal dari korps marinir. “lek ne kene hampir kebutuhan logistik terpenuhi, dan penangan seluruhnya dipegang oleh mereka yang berbaret merah”, tegas keceng, salah satu pengungsi dari keluraha srumbung, magelang.

Banyak sekali catatan-catatan penting yang saya kumpulkan dari perjalan antara kota Yogyakarta dengan Magelang, terkhusus Salaman. Perjalana yang biasanya memakan waktu kurang dari satu jam, terasa sangat lama. Beberapa saat setelah keluar dari kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta, saya langsung dihadapkan dengan kota Salam yang keadaanya sudah begitu parah. Secara letak geografis kota ini terletak relativ jauh dari Merapi, akan tetapi angin yang sering berhembus ke barat telah membawa ratusan kubik debu dan pasir merapi yang keluar bebarengan ketika Merapi meletus. Keadaan yang tidak jauh berbeda adalah kota Muntilan, keadaannya sangat parah. Jalan aspal yang biasanya terlihat sangat mulus kali ini harus tertutup oleh tebalnya pasir yang sudah kadung menggumpal karena guyuran air hujan yang nanggung. Sekitar lima sampai sepuluh senti tebal pasir diatas aspal, dan itu sangat mengganggu tranportasi yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang dan daerah-daerah sekitarnya, termasuk Semarang dan Wonosobo.

Speedometer melulu menunjukkan angka makimal 40 km/jam. Lebih dari itu resiko ditanggung pengendara. Selain itu jarak pandang mata juga sangat terganggu dengan sisa abu vulkanik yang mengguyur kota Magelang tempo hari. Semuanya serba terbatas. Jalan yang seharusnya sangat lebar—karena empat ruas—terasa satu ruas saja, aspal yang dasarnya halus harus mengalah dengan pasir yang menindihnya.

Kota Seribu Pengungsi

Sepanjang Salam-Muntilan, mata saya tidak pernah luput dari banyaknya pengungsi yang ada di kota itu. Pada dasarnya tidak ada tempat yang benar-benar layak dijadikan tempat pengungsian di Magelang. Dari ujung timur sampai pelosok barak Magelang semuanya terguyur abu yang sangat tebal. Oleh karena itu, barak pengungsian yang ada juga kondisinya benar-benar tidak layak.

Lebih dari sepuluh barak pengungsian yang saya jumpai sepanjang dua kecatamana pembatas Magelang dengan Yogyakatarta itu. Dan kesemuanya kondisinya sungguh memprihatinkan. Mata relawan masih tertuju kepada Jogya, padahal di Muntilan juga masih sangat membutuhkan tenaga waktu itu.

Kondisi juga diperparah oleh luapan lahar dingin yang memenuhi bantaran kali Krasak. Sehingga banyak pengungsi yang kemudian dipindahkan ke beberapa wilayah di Sleman dan Kulonprogo.

Relokasi Borobudur

Mata saya juga tertuju pada Sebuah bangunan agung menjulang tinggi diantara perbukitan Menoreh. Sebuah banguna yang dibangun di masa dinasti Sailendra, Borobudur. Menurut berita yang lihat di TV, Borobudur tertutup abu setelah 30 sentimeter—semoga ini tidak salah. Selain itu, kondisi diperparah dengan luluhlantaknya pertamanan yang menghiasi eloknya Borobudur. Panorama hijau Boronbudur seketika itu berubah bak sebuah daerah mati yang habis diserbu oleh sepasukan Alien dari luar angkasa. Semuanya serba abu-abu.

Nampaknya ini akan menjadi pekerjaan rumah pemkab Magelang dalam mengembalikan ikon Borobudur sebagai lambang wisata Indonesia. Dalam beberapa artikel saya sempat membaca bahwa turis mengenal hanya dari 3B;Borobudur, Bromo dan Bali. Dan Borobudur telah sakit, dalam artian butuh waktu yang cukup lama untuk kembali merelokasi tempat wisata andalak keluarga ini.

Kota Mati, Lalulintas tetap Jalan

Setelah hampir setengah hari di barak pengungsian Lapangan Tembak, saya kembali ke Yogyakarta. Selain mendapatkan beberapa pengendara motor yang terjatuh akibat jalan yang tidak bersahabat lagi, saya juga mengamati kondisi kota Muntilan dan Salam malam hari. Gelap gulita. Tidak ada listrik yang menerangi, tentunya tidak ada manusia yang menghuni. Saya kurang tahu, apakah ini kebijakan pemerintah daerah setempat untuk mematikan listrik, ataukah memang di ruham-rumah yang tersebar sepanjang jalan itu sudah ditinggal oleh penghuninya. Cahaya hanya saya dapatkan di bebepa SPBU di kota itu, itupun tidak semua.

Meskipun demikian, kondisi ini tidak mempengaruhi keadaan lalu lintasnya. Kendaraan-kendaraan yang melintasi masih ramai seperti biasa, tetapi dengan kecematan jauh dari biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar